Drama Perjalanan di Bandung dan Piknik Tipis-Tipis (Part II)

Mari kita lanjutkan part II dari cerita 4 hari di Bandung. Oke agan-agan siap semua!?

 

Hari ketiga di pine hill Cibodas, diawali dengan bangun pagi dan jalan-jalan santai. Aku waktu itu niatnya pengen sunrisean plus jalan-jalan tipis lah di sekitar pine hill kali aja ada objek wisata yang asik. Bangun jam 5an agak mager sih tapi demi piknik yang lebih ber-faedah harus dilakukan. Karena gak tau situasi di pine hill, dan gak ada kendaraan jadi akhirnya jalan-jalan santai disekitar sana aja. Jipenk dan Nat-Nat menysulku.

Sunrisenya juga gak keliatan ketutupan pohon, tapi kami sampai jalan ke bawah waktu itu. Ada jalan turunan kecil yang cukup curam sih tapi masih aman lah. Sampai bawah gak banyak yang bisa dilakuin, karena itu cuma tanah lapang dan disebelahnya ada ladang punya warga sekitar. Habis ngambil beberapa foto kami naik.

Jadinya lebih banyak menghabiskan pagi di pine hill. Banyak-banyakin menghirup udara segar di pagi hari setelah kemarin menghirup udara kampas kopling mobil hahaha.

Habis sarapan dan semua orang bangun, kami diajak mampir ke villanya pengantin baru. Gak jauh dari pine hillnya, jalan kaki cuma 5 menit. Hari itu banyak menghabiskan waktu bersantai-santai kayak don juan, ada kolam renang sekalian cibang cibung cantik hahaha. Meski udara dan airnya dingin banget, karena kami strong like beton!

Kelar berenang dan bersantai kami balik ke villa kami di pine hill. Ada cerita goblok waktu jalan kaki balik ke villa. Kami di stop sama security pine hill gitu pas mau masuk gerbang. Doi nanya kita mau kemana, terus kita jawab mau ke vila pine hill. Si bapak bilang, “gak bisa soalnya tempat ini sedang ada yang nyewa.” Lucunya doi berkeyakinan kalo kita ini adalah stranger.

Pas salah satu dari kami ada yang bilang, “ya kami pak yang sedang pakai tempat ini”.

Doi langsung bilang “eeeemmm kayaknya bukan deh” hahahanjir. Setelah dijelaskan lagi akhirnya si bapak percaya kalo kami yang sedang pakai villa di pine hill. Wajar aja kalo dia bilang “kayaknya bukan deh”, lha 8 orang yang mau masuk waktu itu tampilannya kayak gembel semua, rambut basah, celana pendekan, baju basah, ada yang gak pake sandal, nenteng jaket pulak hahaha. Emang uadah tugas security buat mencurigai segala hal yang menurut dia mengancam keberadaan tempat yang dia jaga, mungkin acaman itu tergambar di tampilan kami saat itu :))))

Kelar santai dan mandi-mandi, kami packing buat turun balik ke Bandung. Setelah berpamitan dengan pengantin baru dan Adi yang langsung balik ke Jakarta, kami turun menggunakan dua mobil. Bahkan jalan balik ke Bandung saat itu masih macet, ya ya ya sudah resiko kalau long weekend di tiap kota besar pasti jalanan macet.

The Burjo Ijo a.k.a Garong Ngropoh!

Sampai Bandung sore hari, kami mampir di warung kopi Purnama di Braga. Warung kopi yang sudah beroperasi sejak tahun 1930 ini bisa dibilang salah satu tempat yang wajib dikunjungi di kota Bandung. Sebagai sebuah warung kopi justru warung Purnama ini gak banyak menjual menu kopi, bahkan kopinya pun sangat Indonesia sekali. Kalau gak salah cuma ada kopi, kopi tubruk, kopi susu dan sisanya minuman beserta makanan. Ada menu berbahan babi juga, tapi ada menu halal-nya juga kok. Ambience lawasnya kerasa sekali gitu masuk ke tempat ini, dari awal pintu masuk sampai interior di dalamnya. Menu yang terkenal adalah roti selai srikaya, must try! Enak sih dari segi makanan dan suasananya. Wajib kesini kalau kebetulan mampir ke Bandung.

Sore itu agak jet lag hahaha! Habis berenang di udara dingin terus tiba-tiba berada diudara panas agak aneh rasanya. Jadi setelah berpamitan dengan Budi yang harus balik ke Jogja sore itu, Jipenk dan Ino yang balik ke kost masing-masing. Tinggal ada aku, Nat-Nat, Diki, Niko, Gaby yang masih extend beberapa hari kedepan. Aktivitas malam pun gak banyak, setelah sampai hostel kami cuma bermalas-malasan, nyari makan malam, habis itu tidur buat trip besok pagi.

Malam itu aku bikin itinerary buat trip singkat kami, enaknya kemana dengan waktu sesingkat ini. Banyak tempat yang mau dikunjungi sih, cuma karena waktunya gak banyak jadi akhirnya aku harus memilih tempat yang sejalan dengan tujuan dan mengikhlaskan tempat lain untuk dikunjungi lain kali, memang ikhlas itu adalah luka pemirsa *awawawaw!!

Day 4, piknik tipis-tipis.

Kami berangkat subuh dari Bandung, jam 5 pagi. Sebelumnya kami berpamitan dengan Niko yang hari itu balik ke Jogja. Mobil yang akan mengantar kami sudah siap, untung waktu itu Felix menyediakan transport buat kami jalan-jalan, karena hari itu mobil yang disewa untuk acara pernikahan masih ada satu yang bisa dipakai dan kebetulan juga gak ada yang pakai jadi kami yang menggunakan buat jalan-jalan, rejeki anak soleh! :))))

Tujuan kami hari itu adalah Bandung Selatan dan destinasi pertama kami adalah Ranca Upas, tempat yang sedang naik daun di Bandung! Berangkat jam 5 pagi dan butuh 1.5 jam buat sampai di tkp. Sampai di Ranca Upas matahari udah cukup tinggi (niatnya motret sunrise sih hahaha). Tapi gak papa namanya juga piknik tipis-tipis.

Ranca Upas awalnya terkenal sebagai tempat kemah bagi warga Bandung dan juga kawasan hutan lindung di Bandung. Tempatnya yang berada di ketinggian pas banget buat camping bareng keluarga atau temen-temen, udaranya sejuk. Tiket masuknya 10.000 rupiah perorang plus biaya masuk mobil 5000 rupiah. Waktu itu tidak banyak yang camping karena pas weekdays juga sih, tapi ada beberapa tenda yang terlihat terpasang di kawasan Ranca Upas. Plus beberapa pasangan yang terlihat tengah melakukan sesi foto prewedding, karena selain buat camping tempat ini juga sering digunakan buat sesi prewedding. Cocok banget sih dari segi tempat, alam terbuka, suasananya masih asri, ambiencenya bagus ada kabut-kabut tipisnya.

Selain itu di tempat ini juga ada penangkaranan rusa, dan kita bisa ikut memberi makan rusa dengan membayar 10.000 rupiah untuk sekantong plastik wortel. Kami waktu itu gak banyak melakukan aktivitas sih, aku cuma ngambil beberapa stok foto terus mampir ke penangkaran rusa, sisanya makan indomie di warung hahaha.

Perjalanan berlanjut ke Rancabali yang adalah perkebunan teh, gak jauh dari Ranca Upas. Terletak di pinggir jalan raya, tempat ini sangat instagram-able, kebetulan waktu itu lagi cerah juga jadi makin oke suasananya. Aktivitas yang bisa dilakuin disana gak banyak, cuma berfoto di tengah kebun dan sama sight seeing kebun teh aja.

Setelah puas berfoto kami melanjutkan perjalanan ke Situ Patenggang yang juga masih sejalur dengan Rancabali. Tempat wisata ini sangat terkenal bagi warga lokal Bandung, terlihat dari banyaknya warung yang berjejer, tempat parkir yang luas, dan juga warga sana yang cukup aktif buat menawarkan jasa wisata di Situ Patenggang seperti naik kapal keliling danau. 

Kami memutuskan buat bersantai aja di tempat ini, setelah berjalan-jalan melihat sekeliling kami memilih duduk di pinggir danau dan ngobrol santai. Habis dari sana kepikiran buat nyari tempat makan siang cuma gitu sampai mobil si bapak yang mengantar kami hari itu terlihat sedang istirahat, karena gak mau mengganggu si bapak kami mampir sejenak di warung sambil ngopi dan makan gorengan yang masih anget plus minyak yang masih berlimpah ruah hahaha, suasana yang cocok banget sih! Alhasil lumayan kenyang dan batal buat nyari makan siang :))))

Masih ada satu tempat yang bisa dikunjungi sebelum balik ke kota. Kami mampir ke Kawah Putih karena tempatnya sejalan dengan perjalanan pulang kami. Ini pertama kalinya aku ke Kawah Putih, gak ekspektasi macem-macem sih karena klo tempat wisata terkenal pasti kesannya biasa aja buatku hehe. Gitu sampai di gerbang masuk agak malesin karena kalau pakai mobil ke atas kena biaya 150.000 rupiah buat mobil masuk, kalau nggak mau kita bisa pakai shuttle yang disediakan buat ke atas Kawah Putih.

Cuma ketika pengunjung disarankan menggunakan fasilitas tempat wisata dengan membayar harapannya sih kita dapet pelayanan yang baik juga. Waktu kami mau bayar buat tiket masuk dan ngantri untuk shuttle, petugas loket yang kurang ramah kepada pengunjung buat kesan awal akan tempat ini jadi negatif. Terlebih ketika dari kita ada yang nanya “ini shuttlenya harus nunggu penuh dulu baru jalan?” Petugas loket dengan cepat bilang “kalau mau jalan duluan bisa aja, cuma harus bayar lebih dari harga awal”. Boom!! Cukup kaget waktu denger doi bilang gitu, secara kan udah ada harga awal buat pengunjung 20.000 rupiah, terus kalo nambah lagi duit tambahannya itu bakal lari kemana? Hhhhmmmm. Kesan pertama ketika masuk ke tempat ini kurang mengenakan.

Kawah Putih adalah sebuah danau yang terbentuk akibat dari letusan Gunung Patuha. Tanah yang ada di kawasan ini berwarna putih akibat dari pencampuran unsur belerang. Butuh waktu sekitar 15-20 menit untuk sampai ke puncak dari tempat pemberhentian shuttle. Sepanjang perjalanan menuju Kawah Putih kita disajikan suasana hijau dari pepohonan, karena tempat ini di kelola oleh Perhutani Indonesia. Aktivitas yang bisa dilakukan di tempat ini adalah sight seeing pusat kawah, dan ada beberapa suvenir yang dijual di pinggir kawah.

Kelar dari Kawah Putih kami balik ke Bandung, sekitar jam 3-an sore. Sebelum balik kami berencana nyari temat makan, buat mengisi kekosongan perut yang tertunda siang tadi. Sampai di Bandung, langsung makan di tempat makan prasmanan dengan menu masakan khas Sunda. Sebelum balik ke hostel, kami sempatkan mampir membeli oleh-oleh biar besok gak diburu waktu karena flight ku ke Bali sekitar jam 1 siang.

Wisata di Bandung sudah selesai, kami berpamitan dengan bapak driver kami dan mengucapkan terima kasih.

Malam terakhir di Bandung tiba, dan hasrat pengen nge-beer muncul. Pas banget Ino dan teman sewaktu kuliah Reza ngajakin nge-beer di Beer Point plus Uci dan Doni juga ikutan. Berangkatlah aku dan Nat-Nat, kami memilih jalan kaki karena jarak dari hostel ke Beer Point kami lihat di map sekitar 1.2 km, gak jauh lah sekalian olahraga ini. Anak Bali mah doyan jalan (gak ada hubungannya sih hahaha).

Asik juga Beer Point dengan konsep self service kita pilih dan ambil minuman sendiri, ditambah jenis minumannya beragam sekali. Pas sekali, menutup malam terakhir di Bandung dengan ber haha hihi bareng temen-temen kuliah ditemani sebotol beer. Pulang dari Beer Point aku dan Nat-Nat nebeng mobil Nasri dan Shelly yang kebetulan hari itu sedang berada di Bandung, mayan dapet tebengan gratis, makasih yes! :)))

Day 5, sayonara Bandung!

Hari terakhir!! Aku dan Nat-Nat check out dari hostel sekitar jam 9 pagi, setelah berpamitan dengan Diki dan Gaby yang masih extend sehari di Bandung. Tujuan pertama kami adalah sarapan dan pilihan sarapan kali ini jatuh kepada Warung Kopi Purnama (lagi) hahaha! Karena kami mau mampir beli kopi Aroma di Braga, jadi biar deket sarapannya di Kopi Purnama aja, tinggal jalan kaki dari kopi Aroma dan gak jauh juga jaraknya (seperti yang udah aku bilang, anak Bali mah doyan jalan kaki hahaha).

Sedikit self-portrait. Photo by: Diki
Photo by: Diki

Pilihan sarapan jatuh ke bakcang dan es kopi susu. Karena kemarin kehabisan bakcang jadi hari itu wajib noyobain soalnya ini salah satu menu andalan Warung Kopi Purnama. Hanya orang-orang khusus aja yang bisa makan makanan ini karena didalam bakcang ada olahan daging babinya hehehe. Terbuat dari beras ketan dan didalmnya ada daging babi,  satu porsi bakcang disajikan diatas piring dengan kuah mirip semur. Rasanya enak, karena tiap olahan daging babi gak ada yang gak enak menurutku hahaha :)))). Satu porsi bakcang masih kurang, aku tambah dengan memesan roti selai srikaya salah satu makanan wajib yang harus di coba di tempat makan ini, tenang gan klo ini halal!

Waktu menunjukan jam 11 siang, saatnya cabut ke bandara Husein Sastranegara dan untung lalu lintas hari itu tidak terlalu padat. Tepat waktu sampai di airport, dan panggilan boarding ternyata lebih cepat dari waktu yang ditentukan, syukurlah gak ada delay. Time to fly back to Bali, till we meet again Bandung yang selalu seru buat dikunjungi! Meski sudah semakin padat dan macet (sekarang di Bali juga sih), tapi kalau ada kesempatan buat kembali lagi gak akan nolak lah. 

Cheers, 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *