Coldplay, A Head Full Of Dreams Trip

Langsung ditulis biar gak lupa habis dari dapet pengalaman seru nonton konser Coldplay di Bangkok beberapa hari lalu. Tulisan ini mulai diketik di bandara Malaysia ketika akan pulang ke Bali. Bahkan ketika sampai dikantor masih mendengarkan beberapa buah lagu yang dibawakan konser kemarin, post holiday syndrome.

Welcome to Bangkok
Berujung harus naik perahu menelusiri Chao Pharya river buat ke Grand Palace.

Singkat cerita, waktu ada pengumuman Coldplay bakal ngadain konser di Asia Tenggara, cukup membuatku excited dan mengira Indonesia bakal kebagian jatah dan sialnya tidak. Dengan tekad yang bulat (bukan tahu aja yang bulat #apeu) aku usahain bakal berangkat nonton, dan ternyata Clara Ima yang lebih dikenal dengan nama Sumiyati haha yang notabene temen sewaktu kuliah dulu juga berencana nonton, jadilah kita berdua berburu tiket konser. Pokoknya harus dapet!

 
Rencana awal sih pengen nonton show yang di Singapore, apalah daya gak kebagian tiket yang dalam waktu 5 menit udah ludes terjual ke penonton dan sisanya ke calo, kampret! Kemudian pengumuman show kedua di Singapore dirilis, dan siap2 lagi didepan komputer buat hunting tiket dan ternyata gagal juga, masih para calo yang mendominasi, faaakkk!!
 
Teori semua indah pada waktunya akhirnya datang, Bangkok masuk list baru tour mereka di asean. Ada secercah harapan lah, biar kata waktu itu pengen pancal nonton yang di Korea sekalian jalan2 haha. Tapi akhirnya berjodoh dengan Thailand, 1 tiket standing berhasil diamankan dan siap berangkat! Woohhoo!!
 
5 April 2017, disambut pagi yang sedikit mendung di Bali aku memulai A Head Full Of Dreams Trip. Berangkat ke Malaysia untuk transit 10 jam sebelum lanjut ke Thailand. First time landing in Kuala Lumpur, dulu waktu ke Malaysia cuma ke Penang aja, karena ini transit jadi memilih untuk menunggu di bandara aja sekaligus menunggu Sumiyati yang berangkat dari Jogja. 
Wat Arun yang sedang dalam renovasi 🙁
Seorang warga Thailand terlihat didepan lukisan Raja Thailand yang berada di kawasan Grand Palace.

Hampir mati bosan, meskipun sudah menjelajah bandara yang besar, mulai dari masuk toko demi toko, ngemper di pinggiran, makan di lantai 2 sampai 3, ngeliatin orang lalu lalang plus “ngerasanin” kira2 dia mau kemana atau dari mana, browsing internet, and repeat. Plus flight dari kuala Lumpur ke Bangkok delay, yang harusnya sampai setengah 9 malam dan baru mendarat di Thailand jam 11 malam ppfffttt! Udah kelaparan dan hampir pengsan di pesawat karena belum makan malam. Sampai Don Mueang cari makan biar cacing di perut gak berisik banget. Akhirnya jam 12 malam sampai hostel dan habis mandi langsung cari makan malam, iya makan malam yang telat banget! 

Hari kedua, strolling kota Bangkok. Hari itu ke Grand Palace Bangkok, perjalanan menggunakan BTS (kereta) cukup membantu, karena selain murah, cepat dan berhenti di tempat-tempat pariwisata BKK, kalaupun harus jalan kaki itupun gak jauh banget. Awalnya aku salah masukin nama tujuan awal kita di map, yang harusnya Grand Palace jadi Royal Palace yang mengarahkan kami ke Hotel Royal Palace hahaha. Tapi salah jurusan barusan buat trip jadi asik, karena berujung membuat kami naik kapal dan menyusuri sungai Chao Phraya untuk sampai ke Grand Palace. Ntap!
River tour
Makan Siang dulu sob!
Ini baru sebagian rombongan yang mau masuk ke Grand Palace, masih ada banyak dibelakang mereka, hadehhhh

Sampai disekitaran Grand Palace, lebih baik makan siang dulu ben gak edan! Setelah itu lanjut ke Grand Palace yang ternyata rame banget! Aku cuma duduk nunggu diluar, sementara temenku masuk ke dalam lagian pada saat itu aku menggunakan celana pendek jadi tidak diperkenankan masuk. Mungkin ada sekitar 1000 orang atau bahkan lebih wisatawan siang itu di Grand Palace. Mayoritas dari China.

Ada pemandangan yang menarik ketika berada di Grand Palace, begitu banyak warga Thailand menggunakan pakaian hitam dan semakin siang semakin bertambah jumlahnya. Ketika aku bertanya kepada petugas yang berjaga di kawasan itu, ia mengatakan kalau Thailand lagi berduka akibat meninggalnya raja mereka, Bhumibol Adulyadej. Sebelumnya aku mengetahui informasi kalau Thailand memberlakukan waktu satu tahun masa berkabung, namun aku gak menyangka kalau suasana berkabung ini masih terasa bahkan setelah 6 bulan sejak meninggalnya sang raja pada Oktober tahun lalu.
Cukup menaruh respek yang tinggi buat masyarakat Thailand, karena terlihat antusiasme warga untuk memberikan hormat terakhir kepada sang raja dan pemerintah terlihat sangat mendukung buat warga yang datang ke sekitaran Grand Palace dengan menyediakan shuttle bagi warga untuk masuk ke kawasan Grand Palace. Di luar pun beberapa warga membangun tenda dan menyediakan minuman serta makanan gratis bagi yang membutuhkan. Juga ada toilet portable dan juga fasilitas kesehatan yang siap membantu warga yang sedang berkabung. Beberapa petugas ditempatkan dititik tertentu yang berguna untuk memberikan informasi bagi warga yang kesusahan atau tidak tahu harus kemana. Wow! Sebuah bentuk kesetiaan yang harus tetap dipelihara terus, salut!
Dua wanita Thailand berada di depan lukisan Raja Bhumibol sewaktu kecil.
Kebayang kerennya kalo gak mendung, gak lagi renovasi dan dapet sunset yang bagus
Shuttle buat mengantarkan warga.
Salah satu alasan untuk datang ke Bangkok lebih awal adalah biar bisa jalan-jalan ke seputaran kota, dan salah satunya untuk bisa sunsetan di Wat Arun yang terkenal dengan sebutan Temple of Dawn. Yap, ini kali ke 4 ku di kota Bangkok dan dari dulu selalu pengen motret sunset dengan latar belakang Wat Arun Temple. Setiap ngeliat foto2 sunset di Wat Arun selalu berpikiran kapan bisa kesana lagi, dan mungkin dengan datang lebih awal bisa mampir buat sunsetan di pinggir sungai Chao Phraya sambil motret Wat Arun. 

Tapi apa mau dikata, rencana sudah matang, sudah sampai di sekitaran spot nyore dari jam 4an tapi gitu waktu sunset tiba awan mendung datang dan menutupi matahari. Gagal buat sunsetan, mungkin besok disuruh balik lagi ke Bangkok. Ditambah pada saat itu sedang ada renovasi dibagian utama candi, bahkan lampu yang biasanya dinyalakan pada malam hari untuk menerangi candi waktu itu ikut padam. Semoga lain kali ada kesempatan. 
 
Gak terasa hari yang di nanti tiba, 7 April 2017. Tujuan utama dari perjalanan ini nonton konser Coldplay live di Bangkok! Dari pagi udah excited, sampai salah naik BTS. Ternyata National Stadium beda dengan Rajamanggala National Stadium, gitu sampai di National Stadium kok sepi gak ada tanda2 bakal ada konser. Setelah ngecek map ternyata salah, kurang kata Rajamanggala-nya hahaha. Terpaksa muter balik lagi naik BTS, dan akhirnya sampai juga di TKP setelah kebingungan nanya arah sama petugas BTS, naik bis yang ternyata kejebak macet tapi semuanya terbayar lunas dengan show yang menakjubkan!
Tolong jangan salah fokus, yang diliat tiket konsernya :)))
Terlalu banyak kembang api pada malam itu dan itu yang bikin terjebak nostalgia
Pertama sampai di stadion kesan yang muncul adalah “ini kayak lagi mau nonton konser di Indonesia dah”. Mungkin hampir 50% yang nonton kemarin orang Indonesia semua, istilah kerennya kaum milenial Jakarta! hahaha. Jalan dikit denger orang ngobrol pake kata “gue”, duduk di selasar stadion ketemunya orang Indonesia, ngatri di gate buat masuk stadion orang Indonesia semua, edan! Sampai ada kejadian di antrian gate yang penuh penonton itu, jamaah Coldplay dari Indonesia neriakin yel “Indonesia, prok prok prok prok” kayak yel yang sering kita denger pas ada event olahraga. Bahkan ada yang bawa bendera slank di dalem antrian! Anjir! :)))
Bahkan ketika nunggu gate dibuka, kita bisa denger Coldplay lagi cek sound, dan waktu bridge AHFOD dimainin semua orang yang nunggu di gate masing2 ikut nyanyi bareng, edannnn euphoria diluar aja seasik ini apalagi ntar di dalem stadion. Singkat cerita setelah antri gate dua jam, pintu dibuka tepat jam 5 sore! Wohoooo mendadak semua penonton berlarian ke bagian masing2, beruntung aku sama temenku yang notabene antri dari jam 3 sore dan dapet bagian jarak kurang lebih 5 meter dari panggung. Katanya ada yang antri dari jam 10 pagi, niat abis! 
 
Setelah masuk stadion, masih harus nunggu 3 jam lagi sampai opening perfomance dimulai. Kaki udah mati rasa berdiri nunggu sampai acara mulai. Jam setengah 8 lagu kebangsaan Thailand atau lagu untuk menghormati raja Thailand (aku kurang paham juga, tapi nadanya seperti national anthem, but correct me if I’m wrong) mulai diputar di stadion, mungkin sebentar lagi show akan mulai. 

Ada satu kejadian yang agak bikin aku malu sebagai orang Indonesia. Pas lagu itu berkumandang, ada beberapa dari orang Indonesia yang masih ngobrol dan seolah2 gak bersikap sebagai mana national anthem negara harus dihargai, ohh come on dude! Kalo ini kejadiannya di Indonesia pasti udah pada heboh semua. Bahkan aku denger ada beberapa orang yang nyanyi lagu Indonesia Raya pas lagu itu berkumandang, goshhhh! Ayolah, do you really to do that stupid things!? Antara norak atau memang tolol!! 
The best my phone can do.
Viva La Vida!

Tepat jam 8 Jess Kent naik panggung, penyanyi asal Australia ini jadi opening artist konser Coldplay di Asean. Mengusung genre pop, musiknya cukup asik buat dinikmati. Kurang lebih tampil selama setengah jam, doi bisa mencairkan suasana stadion yang cukup membosankan karena sudah menunggu selama berjam2.  

Tepat jam 9 malam suasana panggung menjadi gelap, suara Charlie Chaplin mulai terdengar dan sayup2 intro lagu A Head Full Of Dreams terdengar. Please welcome COLDPLAY!! Boom! Dibuka dengan kembang api yang meriah, lagu pertama dari album AHFOD digeber, suasana stadion yang tadinya lesu jadi makin menggila!! 

Ditambah XLYObands mulai nyala warna warni, bikin tambah meriah suasana stadion malam itu. Waktu lagu pertama dimulai XLYObands punyaku sama sekali gak nyala, kirain memang apes dapet yang eror. Ternyata gitu lagu kedua baru nyala. Wooohhooo! LED wristband bener2 bikin suasana konser malam itu beda banget, warna warni lampu yang dihasilkan dari gelang punya peran visual yang kuat di konser malam itu. 

Lagu favoritku di album AHFOD ini berhasil buat rasa capek dan kaki pegel setelah berdiri berjam2 mendadak hilang. Apalagi waktu bagian bridge AHFOD dinyanyiin bareng2 satu stadion, fix bikin speachless dan sedikit “tersedak”. Atmosfirnya bener2 edan, ditambah pas konfeti mulai keluar plus deretan kembang api di tembakin pas mau ending lagu AHFOD, faaaaakkkk KEREN ABIS!!

So close!
Sky Full Of Stars!

Setelah itu berturut turut Yellow, Every Teardrop is A Waterfall (lagu ini juga bikin tercabik2 pas ikutan nyanyi bareng, damn!), The Scientist di bawain dengan epic! Terkuras sudah energi yang belum sempet makan malem, tapi dipaksa tetep melompat2 dan bernyanyi terus2an. Beberapa penonton ada yang tumbang (termasuk orang Indonesia yang tetep cerigis waktu national anthem Thailand berkumandang haha), kehabisan nafas dan kecapekan. Tapi ini justru kesempatan buatku makin dekat ke bibir panggung hahaha. 

Beberapa hits seperti Paradise, Charlie Brwon, Everglow, Viva La Vida, A Sky Full Of Stars, Hymn For The Weekend dimana banyak balon warna warni berterbangan di stadion. 
Kemudian ada Birds, Up & Up, Magic, Something Just Like This, Everglow, Clocks, Don’t Panic, Speed Of Sound, dll berkumandang dengan lantang di Rajamanggala National Stadium malam itu. Tidak ketinggalan yang paling dinanti FIX YOU! Berhasil tambah bikin mati dikoyak koyak perasaan T_T, akhirnya kesampaian liat secara langsung plus nyanyi bareng di tengah2 konser Coldplay. 
 
Everything was beautiful! Kombinasi music, sound, lampu, panggung, performances, properti, visual, and atmosphere that makes you feel so high, so high!! Yang pasti gak nyesel sama sekali, suasananya gila (in a good way), jadi ikut kebawa semangat yang ada didalem stadion, The guys really put a lot energy into it. I could not have asked for a more magical night. It was truly para-para-paradise!!
Up&Up!!!

Aku gak banyak ngerekam gambar selama konser berlangsung, selain peraturan yang tidak memperbolehkan membawa dlsr (meski sempet ngeliat ada yang berhasil bawa sampai dalem stadion sih), juga pengen sekali2 menikmati pertunjukan konser yang sesungguhnya. Malam itu hanya bermodalkan hape iPhone 5s yang bisa merekam beberapa moment keren. Sayang penonton didepanku terlalu sering mengangkat layar handphonenya untuk merekam gambar, hampir setiap di setiap lagu sering kali pandanganku terhalang dengan layar handphone mereka. Sampai ada penonton dibelakangku nyeletuk “nonton konser Coldplay dari hape orang nih” hahaha. Pemandangan yang sangat mengganggu sih sebenernya, namanya juga kaum milenial ppppfffttt.

Gak terasa sudah dua jam bernyanyi dan jejingkrak-an. Up & Up jadi lagu penutup malem itu, plus kembang api yang hampir gak henti-hentinya keluar dari kiri kanan panggung. Udah sampai gak tau lagi harus mengekspresikan dengan kata apa, malam itu keren sekali! Bener kata beberapa orang, kalau hanya mendengar dan menonton lewat youtube terasa biasa saja, gak ada yang special. Harus datang langsung dan ngerasain lagsung di tengah2 crowd konser baru bisa tau kalo konser mereka memang epic! The feeling was so real!! Satu list dari sekian banyak list nonton konser musik udah terealisasikan, terima kasih buat pengalaman baru ini. Amazing Day!!

Hari itu secara gak sengaja ketemu beberapa temen dari Indonesia, kebanyakan sih temen kuliah dulu. Ada Antok dan istri, Tiur, dan Daru, juga ketemu temen baru dari Thailand namanya Sasi. 

Selesai konser capeknya mulai kerasa lagi hahaha. Haus + Laper + Capek = Jadi Bodo! hahaha. Mana susah buat dapet transport balik ke hostel pulak, lengkap sudah. Secara bubaran konser semua penonton punya tujuan sama, yaitu balik ke penginapan dan rumah masing2. Public transportation udah bisa dibilang gak ada, satu2nya yang mudah buat dicari adalah taxi dan ojek. Butuh waktu hampir satu jam buat aku dapet kendaraan balik ke hostel, itu pun pake rebutan sama orang Thai yang mau nyerobot taxi yang udah berhenti didepanku duluan dan mereka main masuk aja lewat pintu belakang taxi (batinku “ealah si kampret nyari masalah nih”), keluarlah naluri batak ku ini dan bilang kalo taxi ini udah aku pesen duluan hahaha.

Akhirnya malam itu kita balik berempat ketambahan Antok dan sang istri. Mayan lah rejeki juga buat supir taxinya dapet pemasukan extra nganterin ke dua tempat berbeda. 

Namanya juga turis, first time in Kuala Lumpur
Difoto dari salah satu halte kereta KL, dari sini aja keliatan bagus kalo kotanya bener2 ditata.

Keesokan harinya harus cabut meninggalkan Thailand, ada waktu sehari buat transit di Malaysia bisa lah jalan-jalan tipis di Kuala Lumpur. Setelah check in di hostel lanjut jalan ke Petaling China Town, ternyata gak seheboh yang aku kira tempatnya. Bayanganku tempat ini kayak night market di Bangkok yang bener2 bisa bikin kantong dan tabungan jebol, tapi ternyata barang2 yang ditawarkan cenderung sama dari satu stall ke stall yang lainnya. Buat makanannya pun gak begitu beragam. Kelar dari Petaling, lanjut ke Petronas Twin Towers. Pertama kali ke tempat ini, memotret beberapa sisi bangunan kemudian duduk di taman nikmatin malam sebelum balik ke hostel buat beristirahat, namanya juga turis hehe.

 

Tapi buat traveler Bangkok dan Kuala Lumpur itu pas sih, public transportation-nya sangat memadai! Apalagi Kuala Lumpur, mau kemana2 mudah mulai dari MRT dan bus udah tersedia sampai malam dan yang paling penting harganya sangat terjangkau!! Kebayang gimana enaknya kalo punya public transportation kayak Bangkok atau Malaysia ada di Indonesia. Gitu keluar dari bandara aja kita udah tau harus kemana dan naik apa, semuanya jelas. Kalo di Indonesia gitu keluar bandara langsung ditarik sama supir taxi yang kasih harga gak masuk akal dan yang pasti MAKSA!! 🙁

BAK KUT TEH!!!

 

 

Si mas ini busking di KLCC station, asik banget suaranya!


Tirulah dua negara itu wahai Indonesia!! Kalo udah waktunya jalan ya jalan gak pake ngetem lama nunggu penumpang penuh, tepat waktu kalaupun terlambat paling beda 2-5 menit saja gak sampai setengah jam lebih, rutenya jelas, bersih dan ramah buat penyandang disabilitas. Aaahhh aku bener2 iri dibuat dua negara itu, karena ngerasain gimana enaknya naik transportasi umum yang semua sistemnya sudah terintegrasi dengan sangat baik. 

 

Gak terasa udah masuk hari ke lima dari A Head Full Of Dreams Trip, dimana harus balik ke Bali menghadapi kenyataan dan kembali bekerja. Harusnya pagi sebelum jalan ke bandara ada rencana ke Batu Caves, tapi karena bangunnya kesiangan sedangkan jam 12 harus jalan ke airport jadi rencana jalan2 ke Batu Caves dibatalkan, semoga besok bisa mampir kesana.

Hasta La Vista! Terima kasih sudah menjadi partner A Head Full Of Dreams Trip!
Gunung Semeru yang selalu gagah!!


Selama di pesawat menuju Bali ditemani lagu dari playlist di spotify yang sengaja dibuat untuk menemani perjalanan ini. Untung sore itu bisa ngeliat sunset dari atas pesawat, siluet Gunung Semeru dan juga Gunung Ijen tampak keren dari ketinggian. Bayangan dari konser masih kerasa, bahkan ketika sampai di Bali masih terjebak nostalgia konser Coldplay di Bangkok. 

Terima kasih buat pengalaman baru yang boleh dirasain walau cenderung singkat. Definitely one of the the best day in my life, lets make the rest of the year even better!

Cheers,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *