Napak Tilas Sendang Sono

Sudah lebih dari 10 tahun ketika pertama kali berkunjung ke tempat ini, kurang tau pasti kapan tepatnya. Tetapi semenjak aku masuk SMA tempat ini jadi semacam “healing place”, apalagi buat anak van lith yang tiap tahun selalu ziarah kesini dengan berjalan kaki sejauh hampir 20 kilometer.

Setelah lulus dari Van Lith pun kadang sama temen-temen menyempatkan diri mampir kesini buat berdoa sekaligus bermalam, kadang kalau pulang atau akan berpergian disekitaran Jawa Tengah pun kalau sempat mampir di Sendang Sono.

For your information, Sendang Sono terletak di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Kalau berangkat dari Jogja bisa lewat Kulon Progo atau lewat Muntilan. 

Menjelang akhir tahun 2016 kemarin aku dan beberapa temen SMA mampir lagi ke Sendang Sono sepulang kami dari reuni di Van Lith. Kali ini nggak jalan kaki kok, pake kendaraan yang cukup nyaman dan cepat haha. 

Sore itu, sepanjang perjalanan dari Van Lith ke Sendang Sono seperti memasuki mesin waktu, tidak banyak yang berubah setelah lebih dari 10 tahun yang lalu. Pemandangan masih di dominasi oleh persawahan dan Bukit Manoreh masih tampak jelas disepanjang jalan. Suasana sore itu cukup cerah, dengan langit yang menguning di sebelah barat kami menuju Gua Maria Sendang Sono ditemani dengan percakapan sewaktu masa SMA yang mungkin udah berkali kali kami bahas tapi masih tetep seru dan bisa buat ketawa ketika mengingatnya.

Begitu menaiki jalan menuju Sendang Sono pun masih tetap sama, kiri dan kanan banyak pepohonan dan letak rumah-rumah warga sedikit banyak masih membekas di pikiran, jalan kecil itu belum berubah masih sama, ketika ada mobil yang papasan harus ada salah satu yang mencoba sedikit menepi dan mengalah. Aroma pedesaan yang kental dengan asap kayu bakar dari dapur-dapur rumah masih bisa aku hirup, udara sepanjang jalan naik menuju Sendang Sono hampir sama seperti 10 tahun lalu, tiap belokan dan tanjakan itu masih bisa aku hafalkan dengan mudah di balik kemudi mobil. Ahhh, maafkan pria yang mendadak menjadi sentimental ini. 

Malam sudah turun di Sendang Sono dan bau tanah sehabis hujan saat itu sangat segar sekali. Tiba-tiba teringat akan jalan ketika home stay bersama masyarakat Promasan 13 tahun silam, menyusuri jalan yang gelap dari Kali Duren menuju Sendang Sono hanya bermodalkan senter karena minimnya cahaya saat itu.

Pada saat itu aku berpergian dengan Addie, Geral, Ajeng, dan Budi yang notabene temen seangkatanku sewaktu SMA, menyusuri jalan menuju Goa Maria Sendang Sono. Tidak banyak juga yang berubah dengan wajah Sendang Sono. Ketika berjalan melewati gerbang masuk utama, disebelah kanan dan kiri masih di dominasi dengan penjual yang menawarkan kami untuk membeli bunga, lilin, lembar-lembar atau buku doa, dan kalung rosario. Semakin naik keatas masih terdapat warung makan yang cukup familiar letak dan menunya.

Terkadang kehadiran kami disambut oleh gonggongan anjing yang berkeliaran di sekitar kawasan Sendang Sono. Suara jangkrik dan aliran sungai menuntun kami sampai di Gua Maria.

Setelah membeli lilin untuk doa dan menaruhnya di dekat patung Bunda Maria, kami berlima hilang dalam ruang pribadi kami masing-masing. Suasana doa malam hari di Gua Maria Sendang Sono memang punya sensasi tersendiri buatku, letaknya yang sangat jauh dari keramaian dan suara bising kendaraan buat siapa saja yang datang ke tempat ini dapat fokus dengan apa yang mereka ingin sampaikan saat itu. Juga ketika malam datang pendar cahaya lampu di tempat ini buat suasana jadi sendu. Sentuhan arsitektur Romo Mangun untuk tempat ini bener-bener keren.

Selesai berdoa, aku menyempatkan diri mengambil beberapa gambar di sekitar Gua Maria sekaligus menunggu beberapa teman yang masih berdoa. Sembari berjalan, sepintas kebayang suasana Sendang Sono ketika diserbu oleh ratusan anak Van Lith untuk berziarah tiap tahunnya.

Kawasan ini seketika berubah menjadi wana biru dari pakaian olahraga yang kami kenakan pada saat itu. Apalagi ketika mengambil foto didepan gambar Romo Van Lith sedang membaptis warga Sendang Sono, jadi ingat ketika dulu berjanji untuk selalu mengobarkan semangat api Romo Van Lith selama aku menjalani kehidupan berasrama dan untuk kehidupan seterusnya. 

Pernah waktu kelas satu SMA, aku dan beberapa teman meminta izin sama pamong asrama kami untuk ziarah berjalan kaki malam-malam dari asrama sampai ke Sendang Sono. Waktu itu sekitar pukul 2 atau 3 pagi kami baru sampai di Gua Maria Sendang Sono, dengan perbekalan dan uang yang pada saat itu tidak banyak. Cuma modal niat dan  untuk melampiaskan energi yang berlebihan sewaktu remaja. 

Flashback demi flashback terus bermunculan di kepala pada malam itu.

Selesai berdoa, malam semakin larut dan perut menjadi lapar. Seafood Bajak Laut di Muntilan menjadi tujuan kami berikutnya. Sampai ketemu lagi Sendang Sono.

Cheers,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *