Terbuai oleh Yangon

Yahoo! Cerita terakhir dari perjalanan di Myanmar dua tahun lalu, lama banget nyelesainnya haha. Konsisten menulis di blog itu memang susah. Tapi semoga habis ini makin semangat nulis soalnya tampilan blog ini baru hahaha! Akhirnya setelah bertahun-tahun mendambakan tampilan blog yang lebih segar.

Terima kasih yang tak terhingga buat teman saya yang kece Natasia yang bersedia meluangkan waktu mengutak atik blog ini biar makin fresh buat dibaca, ditambah proses pengerjaannya cepet banget gak ada seharian udah kelar! Luar biasa wanita kebanggaan Palangkaraya ini haha! Doi punya keahlian di bidang nail art juga, kalau ada mbak mbak atau “mas mas” yang pengen kukunya tampak berseri ala-ala princess gitu bisa kontak mbak Natasia atau stalking instagramnya di xx.nailist 🙂

Straight to the topic, bab terakhir dari serial Myanmar trip di blog ini. Kali ini bakal bahas kota Yangon, kota terbesar di Myanmar yang lagi dalam tahap pembangunan dan bersiap buat bersaing dengan negara-negara lain. Bisa dibilang ini tempat terlama aku transit, sekitar 3 hari. Kota awal sekaligus jadi kota akhir dari trip waktu itu. 

Selamat pagi Yangon yang mulai membangun
Thanlwin Guest House! Tempat tinggalterfavoritselama di Myanmar
Malam pertama di Yangon ngebir bareng temen dari Thailand
Pagi pertama di Myanmar
Blusukan ke pasar tradisional deket Thanlwin

Sekitar pukul 8 malam pesawatku mendarat di Yangon dan langsung menuju imigrasi. Buat pemegang paspor Indonesia gak perlu pakai visa buat masuk ke Myanmar. Kemarin gitu sampai di imigrasi petugasnya bilang “ohh from Indonesia!?” kaget mungkin gara gara jarang orang Indonesia ke Myanmar lagian muka petugas imigrasinya lempeng banget kayaknya lagi ada masalah keluarga, jadi pengen di puk puk haha. Gitu diliat lembaran yang wajib kita isi, kita langsung ditanya mau berapa hari disini, aku bilang 10 hari dan langsung dapet ijin berkunjung 10 hari, welcome to Myanmar. 

Setelah tuker mata uang ke Kyat, kami segera nunggu jemputan dari hostel kami. Usut punya usut ternyata pihak hostel tidak bisa menjemput kami karena mereka ada urusan mendadak, akhirnya kami pakai taksi bandara dengan membayar 70 ribu rupiah untuk sampai ke hostel yang nyetirnya gak santai.

Setelah check in dan mandi, kami nongkrong bersama beberapa pelancong di bagian depan hostel. Hostel tempat kami menginap ini pelayanannya sangat oke! Ownernya orang Perancis tapi dikelola sama suami istri orang Myanmar. Kerennya adalah kita bisa konsultasi itinerary sama si owner, tiap malam mereka selalu mampir ke hostel untuk menyapa penginap, kami banyak dibantu sekali oleh pasangan ini. 

Jujur itinerary waktu itu masih amburadul sekali, kami sudah punya list tujuan kami tapi yang bikin blank adalah jarak dari tempat satu ke tempat lain plus transportasinya, jadi mereka membantu tempat mana yang sebaiknya dikunjungi pertama kali agar perjalanan kami lebih efisien dan tidak kehabisan waktu.

Orang yang menginap disini juga datang dan pergi dengan cepat, kebanyakan cuma singgah untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya. Hampir tiap hari full booked, jadi saranku kalau mau nginep disini booking lah dari jauh jauh hari sebelumnya. 

Namanya Thanlwin Guest House, cuma kayak rumah biasa tapi disulap jadi penginapan, bisa di booking di Agoda. Enaknya kalau pagi kita bisa saling menyapa sesama pelancong sekalian sarapan bareng, bisa tukar2 informasi juga, kali aja bisa ketemu jodoh haha. Waktu itu biaya penginapan semalam sekitar 100 ribu rupiah perorang untuk bagian bunk bed yang isinya 4 orang satu kamar. 

Meminta berkat dengan cara menuangkan air ke patung dewa di Shwedagon.
Menjelang akhir tahun Shwedagon Pagoda banyak dikunjungi warga Myanmar.
Pengunjung Shwedagon yang sedang berdoa.

Singkat cerita, besok kami akan mulai jalan-jalan di Yangon. Kami cukup beruntung, bahkan sangat beruntung bertemu Yuzana, doi adalah perempuan asli Myanmar yang merupakan temen baik dari temen SMA kami. Awalnya rencana pengen ketemu cuma untuk membicarakan itinerary, secara dia orang Myanmar asli pasti lebih tau tempat-tempat mana yang sebaiknya kami kunjungi. Tapi ternyata Yuzana banyak sekali membantu kami, khusunya selama kami di Yangon. Dia mengantarkan kami ke tempat-tempat wisata dan kulineran seru di Yangon. Bahkan sampai membantu kami memesankan penginapan di Mandalay dan booking buat naik Balon Udara di Bagan. Kami sangat beruntung sekali bertemu orang baik seperti dia. Kami juga diajak mampir kerumahnya berkenalan dengan orang tuanya. Yes, we are lucky bastard!

Hari pertama di Yangon, Yuzana membawa kami ke Shwedagon Pagoda yang adalah salah satu pagoda terbesar di Yangon bahkan Myanmar. Kawasan ini sangat luas, begitu banyak sudut-sudut yang menarik yang bisa kita jumpai. Sayang waktu aku kesana, pagoda utama sedang dalam renovasi. Ada hal yang unik di Shwedagon Pagoda, kita bisa ikut memohon berkat dengan cara menuangkan air pada patung di kawasan pagoda sebanyak tiga kali, asalkan kita tau pada hari apa kita dilahirkan. 

 

Stupa utama yang sedang dalam renovasi waktu itu.
Black bird!
Buddha statue in Shwedagon

Ada juga lonceng yang kalau kita bunyikan sebanyak tiga kali, permohonan kita bisa dikabulkan. Di kawasan Shwedagon Pagoda juga ada banyak suvenir khas Myanmar yang dijual.

Setelah dari Shwedagon kami diajak oleh Yuzana untuk makan siang sekaligus menyusun itinerary selama kami di Myanmar. Setelah itu kami ke gereja tua di Yangon, sayang pada saat itu gereja tidak dibuka jadi gak bisa masuk lihat interior gerejanya. 

Jalan Jalan ke Kandawgyi Lake
Gereja tua di Yangon, sayang tidak bisa masuk waktu itu.
My most favorite food in Myanmar, Pork Stick!!!

Balik gereja tua diajak ngemil lagi sama doi haha. Waktunya penggemukan badan dan ini adalah makanannya terfavorit selama di Myanmar, Pork Stick! Bener bener bisa kalap makan ini. Jadi ini semacam sate babi dengan kuah yang menyerupai semur daging sapi kalau di Indonesia. Dagingnya bener-bener empuk, dan kita tinggal milih aja mau bagian apa. Gak cukup sepuluh tusuk kalo makan itu, asal inget kapan harus berhenti aja sih hahaha. 

Hari pertama di Yangon isinya makan dan makan, dan aku sangat menyukai aktifitas itu!! Hahaha

Hari kedua dimulai dengan jalan kaki pagi ke danau di deket guest house terus baliknya mampir ke pasar tradisional deket guest house. Hari sebelumnya kami juga mengunjungi pasar itu tapi cuma sekedar ngeliat liat aja. Hari kedua mengunjungi pasar, aku dan Erick nyobain sarapan mie di pasar. 8 out of 10 for the taste dan harganya murah. Balik dari pasar mampir beli pisang, biar jadi 4 sehat 5 sempurna hahaha sekaligus bagi bagi buat tamu hostel juga. 

Sarapan mie di pasar pagi itu
Stasiun kereta api Yangon
Old school!

Hari ini ketambahan Natalie, seorang traveler dari Perancis yang pengalaman jalan-jalannya bikin mupeng! Doi solo traveling ke Myanmar. Ketemunya di penginapan Thanlwin, kita hari ini berencana ke stasiun Yangon bareng, cari info kereta api buat perjalanan selanjutnya plus sekalian menghabiskan hari di Yangon sebelum berangkat ke Golden Rock keesokan harinya.

Yuzana hari ini menawarkan diri (lagi) buat nemenin kami jalan-jalan. Sepulang dari stasiun kami berempat menuju ke Sule Pagoda, stupa ini terletak persis di tengah pusat kota Yangon. Kurang lebih Sule Pagoda sama halnya seperti pagoda dan tempat beribadah lainnya, terdapat beberapa pintu masuk untuk masuk ke tempat ini. 

Selesai foto-foto dan tour singkat di Sule Pagoda kami melanjutkan jalan kami di seputaran situ. Tujuan selanjutnya adalah Myanmar Independence Monument, terletak di sebuah taman di tengah kota. Enaknya adalah disekitar sini banyak bangunan bersejarah Myanmar seperti Gedung Pengadilan tinggi Myanmar, Gedung Balai Kota, Katedral, dan banyak lagi dengan jalan kaki kita bisa mampir ke tempat tempat itu.

Salah satu pengunjung di Sule Pagoda
Patung dewa di salah satu kuil di Sule Pagoda
Salah satu sudut Sule Pagoda
Seorang biksu berisitahat di dalam Sule Pagoda
Salah satu sisi Sule Pagoda dilihat dari luar

Selesai makan siang, kami mampir ke Bogyoke market yang merupakan pasar oleh-oleh terbesar di Yangon. Agak random sih belum mau balik udah kesini hahaha. Mulai dari kaos, lukisan, celana, sampai perhiasan dijual disini, cuma yang namanya pasar harus pinter pinter nawar yes. 

Kelar dari situ kami ke Kandawgyi Lake, menghabiskan sore plus sekalian farewell sama Natalie yang mau lanjutin perjalanan. Sayang sore itu agak mendung, jadi langitnya ga gitu oke. Cahaya dari Shwedagon Pagoda keliatan sedikit dari tempat ini dan gak terasa udah makin gelap plus makin banyak nyamuk haha, saatnya beranjak. Setelah mengantarkan dan berpisah sama Natalie kami bertiga lanjut makan malam.

Untung waktu masuk Kandawgyi dapet harga lokal, cuma Natalie yang kena harga turis. Waktu itu Erick pake sarung khas Myanmar, Yuzana yang beli tiket dengan bahasa Myanmar-nya mencoba meyakinkan petugas loket kalau dua orang Indonesia itu adalah local youth Myanmar hahaha. 

Salah satu gereja di pusat kota Yangon
Dua orang bisku menyebrang jalan kota Yangon siang itu
Jasa ketik old school 🙂
Kue lekker ala Myanmar haha
Independence monument di Yangon
Salah satu sudut di Maha Bandula Park Yangon, tempat yang bersih dan rapi
Awalnya bingung mereka pada ngapain, setelah dilihat deket ternyata pada transaksi batu perhiasan haha

Malam itu kulineran paling seru selama kami di Yangon! Yuzana ngajak kami ke China town di Yangon, dan jalan nyobain makanan dari satu stal makanan ke stal makanan lain. Mulai dari Indian food, bubur, seafood, sate, pangsit, ulat sagu, dan ditutup dengan minum jus di pinggir jalan! Nikmat dunia sobs!!!!

Berhubung udah check out dari Thanlwin guest house kami nginep semalem di bunk bed hostel di deket China Town. Cuma numpang tidur, soalnya jam 5 pagi harus buru2 cabut buat ke Golden Rock buat ngerayain taun baru yang absurd hahaha.

This is what we do when we get bored waiting for the sunset
Sedikit berawan
Chinese porridge
Oh kolestrol come to papa!
Give that food to me, hooman!!
Yo zup!

Say good bye to Yangon untuk 6 hari kedepan! 

Sepulang dari berpetualang dari lima kota di Myanmar, aku dan Erick balik lagi ke Yangon. Niatnya pengen santai menghabiskan sisa waktu di Myanmar. 

Harusnya kita punya sisa dua hari di Yangon buat dipake jalan-jalan santai. Karena tragedi 30 jam diatas kereta api dari Bagan itu, waktu kami jadi berkurang sehari 🙁

Kami mengundang Yuzana untuk terakhir kalinya, sekalian pamitan sebelum kami balik keesokan harinya. Habis beli oleh-oleh di Bagoyoke yang gak banyak sih sebenernya, duit juga udah hampir ambles dipake buat naik balon udara hahaha. 

Sore terakhir di Myanmar, kami sunsetan di Pelabuhan Botahtaung. Tapi sebelum itu kita mampir di Botahtaung Pagoda, ditempat ini terdapat rambut yang dipercaya masyarakat Myanmar merupakan rambut dari Buddha Gautama. Interiornya mayoritas berlapiskan warna emas dan tampak mewah di beberapa sudut Pagoda. Karena merupakan salah satu tempat suci, ada beberapa spot yang tidak diijinkan untuk diambil gambarnya. Kelar dari sana kami jalan-jalan dibagian luar Pagoda. 

Padat gan!
Salah satu masjid di kawasan padat penduduk Yangon

Tujuan terakhir sore itu adalah Pelabuhan Botahtaung, dan gak diragukan lagi sunset sore itu masih tetep keren, mestakung! Pelabuhan sore itu penuh dengan burung camar, kita juga bisa memberi makan burung, tinggal angkat makanannya ke atas dan nanti langsung disamber sama mereka.

Udah makin gelap di Botahtaung, kami bertiga memutuskan untuk lanjut makan malam bersama dan habis itu menghabiskan malam di rooftop bar di Yangon dengan view Shwedagon Pagoda dari kejauhan. Chit chat malam dengan beberapa gelas alkohol buat kami gak terasa udah waktunya balik ke hostel, lagian biar Yuzana gak kemaleman balik kerumahnya dan kami akhirnya berpamitan.

Seorang pengunjung sedang berdoa di salah satu sudut Botahtaung pagoda
Yuzana is praying, Yuzana is a nice girl, Yuzana loves to help people, be like Yuzana 🙂
Sore itu di pelabuhan Botahtaung
Sisi luar dari Botahtaung pagoda
Terima kasih sudah dikasih cuaca cerah terus selama perjalanan
Last night in Myanmar with stunning view of Shwedagon Pagoda

Many many big thanks to Yuzana yang banyak banget membantu selama kami di Yangon dan Myanmar khususnya, mulai dari ngajak jalan-jalan, mentraktir kami, membantu membooking hostel Mandalay, mengantar ke tempat-tempat seru di Yangon. She is very a nice person and I am glad to have met her in person.

So far Yangon cukup asik buat pelancong, kota ini sedang membangun. Terlihat dari beberapa konstruksi bangunan di sekitar kota dan pondasi-pondasi jalan layang yang akan dibangun. Macetnya udah kerasa juga. Cuma untuk urusan transportasi umum yang agak susah. Beberapa orang menyarankan untuk naik taxi aja ketimbang bus umum yang kadang gak jelas trayeknya dan keberangkatannya (sama aja kayak di Indonesia). Tempat wisatanya banyak banget, gak cukup cuma sehari disini. 

Yangon mempunyai sudut sudut eksotis yang akan dicintai oleh setiap pelancong yang berkunjung ke kota ini. 

Besok paginya harus segera ke bandara buat ngejar flight ke Bangkok, Thailand. Masih ada waktu sisa liburan 2 hari di Bangkok sebelum balik ke Bali. Karena udah kehabisan mata uang Kyat, sisa 30 ribu rupiah saat itu. Kami akhirnya patungan taxi dengan pasangan asal Jerman (kalo gak salah) ke Bandara dari hostel. Meski mereka bayarin 70% dari total harga taxi saat itu sih haha, ahhh ternyata masih banyak orang baik di dunia ini 🙂

Terima kasih sudah ramah kepada kami Myanmar. I’m looking forward to do more adventure in 2017! 

Cheers,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *