Mandalay, Pemberhentian yang Terlalu Singkat

Seperti ada beban moral buat menulis cerita yang belum sempat dibagikan tentang perjalanan ke Myanmar 2 tahun silam. Masih ada beberapa tempat yang belum sempat diutarakan diblog ini. Mengutip salah satu judul buku karya Eka Kurniawan, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Begitu juga dengan rangkaian cerita Myanmar ini, semuanya harus ditulis tuntas! Ga ada hubungannya sih, biar keliatan kayak orang berpendidikan aja hahaha *sa’ae lu tonk!

Standing Buddha statue di salah kuil Mandalay Hill, cukup tinggi lebih dari 5 meter mungkin.
Menyapa pagi di dekat Mandalay Palace
Memohon berkat pagi hari disalah satu kuil Mandalay
Modern tapi ke-khas-an Myanmar-nya masih sangat terasa. Begitulah aku dapat mendeskripsikan kota Mandalay. Kota yang terletak bagian disebelah Utara Myanmar ini merupakan sebuah kota besar. Tampak terlihat dari beberapa bangunan tinggi dan juga ramainya kendaraan yang lalu lalang, dan pusat perbelanjaan modern. Jelas berbeda kalau dibandingkan dengan Yangon yang memang merupakan kota terbesar di Myanmar, sehingga suasana modern-nya lebih terasa (ahh masih ada utang cerita tentang Yangon juga, semoga segera bisa terbit yes). 

Oke lanjut lagi bahas tentang Mandalay.

Waktu itu milih mampir Mandalay karena tempat ini cukup dekat dengan Inle Lake yang notabene udah masuk didalem itinerary. Ditambah untuk mencapai Sagaing (baca juga cerita keseruan perjalanan sehari ke Sagaing) juga sangat dekat dari Mandalay. 

Kami berangkat dari Yangon sekitar pukul 8 malam menggunakan bus (yap lagi-lagi untuk menghemat biaya penginapan dengan tidur di dalam bus hehe). Gitu balik dari menghabiskan tahun baruan yang agak absurd di Golden Rock haha, kami sempatkan mampir ke hostel di Yangon buat ngambil barang yang kami titipkan. Setelah mandi dan packing, kami siap berangkat ke terminal Yangon. Untuk sampai ke Mandalay dari Yangon dibutuhkan waktu sekitar 8 jam. Tenang aja, jalan yang dilalui bagus kok dan waktu itu bis yang kami gunakan sangat nyaman sekali, bersih, space buat duduk luas dan kita diberi snack. Ditengah perjalanan juga akan mampir ke rest area, dimana kita bisa makan ataupun ke toilet. 

Para biksu muda yang sudah mulai beraktivitas di seputaran kota Mandalay pagi itu

Gak terasa 8 jam di Bus dan udah sampai Mandalay, untung waktu itu kami diberitahu oleh orang lokal Myanmar yang baik hati didalam bus kalau kami sudah sampai tujuan, kalau nggak mungkin akan kelewatan dan jadi lebih jauh untuk ke penginapan kami. Ahhh semua ini salah bus yang nyaman banget buat dipake tidur hahaha.

Penginapan kami dekat sekali dengan stasiun kereta api (karena pengennya sih naik kereta api ke Inle, tapi rencana tinggal lah rencana dan untuk mempersingkat waktu. Karena naik kereta api akan memakan waktu yang lama terbukti dari pengalaman 30 jam diatas kereta api Myanmar haha). Setelah kami turun dari bus, mendadak dikepung oleh hyena (baca: sopir ojek haha) yang menawarkan jasa untuk mengantar kami ke penginapan yang udah kami booking sewaktu di Yangon. Karena itu pagi buta dan gak tau arah sama sekali jadi aku dan Erick mengiyakan tawaran mereka. Setelah tawar menawar harga, kami deal dengan harga 5000 rupiah per ojek untuk sampai ke penginapan. 

Biksu muda yang berjalan disekitran kota Mandalay
Sarapan hari pertama di sebuah kedai, fusion food ada unsur Myanmar, India sama Chinanya
On fire!

Ada hal yang agak goblok pasca turun dari Bus. Karena posisi yang gak tau lagi ada dimana plus masih gelap, belum lagi sadar 100% dari bangun tidur, kami mengatakan kepada ojek kalau hotel kami sangat dekat dari stasiun. Kami gak peka gitu kita tawar harga ojek jadi 5000 rupiah mereka langsung mau, padahal awalnya mereka buka harga 20.000 rupiah per ojek. Naik lah kami dan yang bikin kaget adalah ternyata memang deket banget hotel sama tempat kita turun barusan! Man, itu gak ada 1 menit mungkin aku ada diatas motor dan udah nyampe aja hahahaha faaakkk! Mungkin jaraknya sekitar 50 meter dari tempat kita turun buat jalan kaki sampai ke hotel. Ahhh pantes aja si kampret mau ditawar sadis, ternyata memang deket banget, tinggal U-turn udah sampe dah, pfffttt! 

Singkat cerita, setelah check in kami langusng explore Mandalay. Suasana masih gelap, beberapa orang tampak mampir ke kuil untuk sembahyang. Kami berjalan kaki dan di pinggir Mandalay Palace tampak beberapa orang sedang berolahraga. Warna biru langit mulai tampak di arah timur, kami melanjutkan berjalan kaki diseputaran kota. Tampak beberapa biksu berjalan di seputaran kota dan mendapatkan sumbangan dari warga berupa bahan-bahan kebutuhan sehari-hari. Gak terasa cahaya matahari udah terang dan perut mulai lapar. Saatnya melipir nyari sarapan di kedai. Kelar sarapan kami balik ke hotel, buat bersiap-siap mengeksplore Sagaing. 

Karena seharian berada di Sagaing and on the day two, we’re ready to roam Mandalay city! 

Salah satu kuil di Mandalay Hill, seiring kita berjalan dari bawah kita pasti akan melawati berbagai macam kuil
Perjalanan menaiki tangga yang seolah-olah gak ada ujungnya. Olahraga pun dimulai.
Kuthodaw Pagoda dilihat dari atas Mandalay Hill

Bangun pagi dan sarapan, tujuan utama hari itu adalah Mandalay Hill. Jadi Mandalay Hill adalah sebuah bukit yang terdapat banyak kuil, kita bisa menggunakan tangga untuk mengunjungi kuil-kuil di Mandalay Hill dan treknya cukup panjang. Act like local, kami menggunakan angkot untuk sampai ke mandalay Hill.

Perjalanan menaiki ratusan atau mungkin ribuan anak tangga dimulai. Oia yang seru adalah gitu sampai tempat ini dan akan menaiki anak tangga, alas kaki kita harus ditinggal dibawah atau dimasukan tas. karena ditempat ini banyak tempat suci jadi buat siapapun yang berkunjung ke Mandalay Hill harus nyeker alias tidak boleh menggunakan alas kaki. Jadi muter-muter bukit itu dengan nyeker hehe. Seru!

Lapar jendral!!
Woof  hooman!
Di bukit ini juga tersedia teropong yang bisa kita sewa untuk melihat kota Mandalay dari atas
Tulisan to the summit ini merupakan trik biar kita tetep semangat seolah-olah puncak Mandalay Hill udah deket, padahal masih jauh pemirsa!
Jangan tanya apa artinya haha

Layaknya tempat ibadah pada umumnya, di Mandalay Hill kita dapat ngeliat berbagai macam bentuk, ukuran kuil dan patung Buddha. Ada beberapa spot yang jual suvenir, juga minuman dan beristirahat. Beberapa kali sempat negliat biksu yang sedang sembahyang Mandalay Hill dan juga warga yang berziarah ditempat ini. Lebih ke sight seeing tour sih, kita juga bisa liat kota Mandalay dari puncak tertinggi Mandalay Hill. 

Kelar dari Mandalay Hill, lanjut lagi ke Kuthodaw Pagoda. Masih deket dengan Mandalay Hill kok, jalan kaki aja sampe ke Pagoda yang sangat unik ini. Kita bisa ngeliat 700 lebih lembaran batu besar yang bertuliskan ajaran Tripitaka Buddha, tempat ini juga di sebut World’s Largest Book. Begitu masuk dari pintu gerbang dikiri kanan tampak lembaran batu putih berjejer menuntun kita sampai di pagoda utama, Kuthodaw. 

Masih berjalan kaki menuju tempat selanjutnya disekitar Kuthodaw juga banyak kuil dan pagoda yang bisa dikunjungi. Cuaca siang itu cukup panas, tapi mending dapet cuaca kayak gini selama traveling daripada hujan. Langitnya juga sexy, biar kata berawan tapi warna birunya keliatan.

Kuthodaw Pagoda!
Penampakan lembaran batu berisi ajaran tripitaka
Seorang anak kecil yang meminta-minta 🙁

Lelah keluar masuk pagoda, pemberhentian selanjutnya adalah makan siang! hahaha. Seperti biasa nyarinya kedai lokal dengan masakan khas Myanmar. Sekalian menghalau panas siang itu dengan nyari minuman dingin.

Kelar makan siang, lanjut jalan ke Mandalay Palace. Tempat ini pengawalannya cukup ketat, dari kejauhan udah tampak beberapa penjaga keamanan di dekat pintu gerbang. Biaya masuk ke tempat ini 10$ US.

Kelar dari Mandalay Palace, lanjut nyari angkot buat balik hotel bentar terus nyari tiket Bus buat ngeliat ke-eksotis-an Inle Lake. Untungnya sih travel agent busnya gak jauh dari tempat kita nginep. So far, hotelku di Mandalay cukup strategis tempatnya buat kemana-mana. 

Udah bener-bener sampe lupa kuil atau pagoda apa yang didatengi di Mandalay saking banyaknya haha
Mandalay Hill dilihat dari Mandalay Palace
Pintu gerbang Mandalay Palace

Kota ini cukup nyaman untuk disingahi bagi para pelancong. Ke-khas-an budaya Myanmar masih tampak di kota yang menuju ke arah modern ini. Aku sangat menikmati waktu berjalan pagi dikota ini, ketika melihat beberapa biksu jalan dikota, menikmati makanan dikedai khas Myanmar, masuk pasar tradisional dan berinteraksi dengan penduduk lokal Mandalay. Andaikan memiliki waktu satu hari lagi untuk mengetahui kota ini lebih dalam.

 

Sekitar jam 5 sore kami check out dari hotel buat ke terminal Bus, melanjutkan perjalanan 8 jam yang jalannya cukup hardcore ke Inle Lake. 30.000 rupiah biaya yang diperlukan untuk ke terminal dari hotel menggunakan taxi, kali ini jaraknya cukup jauh kok, gak sedeket ojek yang menghantar kami ke hotel pada hari pertama waktu itu hahaha. Lagi-lagi akan menghabiskan malam didalam bus.

Cheers,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *