Bagan, Kota Tua Dengan Ribuan Kuil dan Pagoda (part 2-end)

Here we go! Bagian kedua dari Bagan, Kota Tua Dengan Ribuan Kuil dan Pagoda.
Sinar matahari pagi, kabut tipis, kuil, dan balon udara. Sempurna sekali pemandangan pagi itu!
Highlight di postingan kali ini adalah hot air balloon over Bagan. Dulu pertama kali kepikiran bakal ke Bagan adalah sekitar tahun 2011 waktu ngeliat foto di internet dengan latar matahari terbit, balon udara, plus kabut tipis yang menutupi sebagian pagoda. Gak pikir panjang aku cari info tentang foto itu dan ternyata tempatnya di Bagan, Myanmar. Saat itu juga Bagan masuk daftar travel destination-ku. Awal tahun 2015 kemarin adalah dream come true, setelah menapakan kaki di Bagan dapet bonus naik balon udara di Bagan.
Mulai disi gas
Menyambut pagi dari dalam balon udara
Selamat pagi Bagan!
Kekhawatiran pagi itu adalah kalau kondisi tidak memungkinkan balon udara untuk terbang dikarenakan angin atau cuaca yang kurang mendukung. Soalnya kemarin waktu hari pertama kami tiba di Bagan, tidak ada satupun balon udara yang terbang karena situasi yang tidak memungkinkan balon untuk beroperasi. Kalau jadwal terbang pagi itu dibatalkan kita akan diberitahu oleh operator balon udara dan diberi pilihan apakah mau reschedule atau refund.
 
Pagi itu sekitar pukul setengah 5 pagi, aku dan Erick udah bangun dan standby didepan hostel menunggu di jemput oleh operator balon udara. Gak lama nunggu didepan kami melihat bis operator balon udara lewat didepan hostel dan seketika excited soalnya hari ini langit pagi di Bagan bakal dihiasi oleh puluhan balon udara. Gak kebayang kalau ternyata hari itu gak jadi terbang, uang mungkin dikembalikan tapi kami gak bisa reschedule karena hari itu kami harus pergi meninggalkan Bagan untuk kembali ke Yangon. Mestakung!
Sebuah kuil di Bagan dengan suasana hijau yang tampak segar
Wisatawan yang sempat disapa David pagi itu 🙂
Balon udara kadang terbang sangat rendah
Kami satu bis dengan rombongan wisatawan asal Russia yang gak lancar berbahasa Inggris plus satu pasangan suami istri (kakek-nenek) asal Austria (kalau gak salah), yang setelah puluhan tahun si cowok akhirnya kembali ke Bagan bersama istri untuk pertama kalinya dan terakhir dua orang pria jomblo serta mapan asal Indonesia hahaha!
 
Bis berhenti di sebuah lapangan yang cukup luas, situasi saat itu masih gelap. Kami turun dan dipersilahkan duduk sembari disajikan teh atau kopi serta snack.
 
Sekitar pukul 05.30, udara pagi di Bagan cukup dingin. Seorang pria berbadan besar memperkenalkan diri sembari membawa sebuah senter ditangannya “Hello, good morning everybody. My name is David and I am your pilot today”, kemudian ia menjelaskan aturan saat berada dan selama didalam balon udara. Ya, pagi itu David seorang pilot balon udara asal Inggris akan mengajak kami untuk terbang diatas Bagan dan menyapa matahari pagi.
Matahari mulai meninggi namun warna kuning masih menempel pada dinding kuil
Salah satu pagoda terbesar di Bagan yang lagi dalam tahap renovasi dan rombongan balon udara di Bagan
Balon udara di Bagan merupakan balon udara komersial pertama di Asia Tenggara. Ada beberapa penyedia jasa balon udara di Bagan, salah satunya adalah Balloons Over bagan yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun dan kebetulan kami menggunakan operator ini saat itu. Balon Udara merupakan salah satu alternatif untuk menikmati kota Bagan yang eksotis. Diperlukan biaya 320 USD per orang untuk sekali perjalanan balon udara diatas kota Bagan, harga dapat berubah sesuai dengan musim kunjung wisatawan ke Bagan. Kalau tertarik menikmati sensasi berada didalam balon udara dan terbang di ketinggian bisa mencari info atau sekaligus memesannya lewat www.balloonsoverbagan.com. Waktu itu kami dibantu oleh Yuzana teman kami dari Myanmar untuk pemesanan dan menentukan hari sesuai jadwal perjalanan kami selama disana.

Jadi apa aja yang kita dapatkan dari membayar 320 USD?
1. Topi Balloon Over Bagan
2. Sertifkat
3. Kartu nama
4. Kartu pos
5. Champagne, teh panas, cake, roti, dan terakhir
6. Kenangan hahaha!

Sebenernya ditawarin foto bersama pas diatas balon udara, pake GoPro mereka yang dipasang di depan balon tapi kita harus bayar lagi 15USD buat dapetin foto itu dan bakal dianter sampai hotel nanti siang. Berhubung budget udah menipis jadi aku gak ambil foto we-fie bareng-bareng deh, lumayan euy 15USD buat makan plus nyari oleh2 di Yangon haha (alasan aja sih).
 
Singkat cerita, sekitar pukul 6 pagi balon udara lepas landas, perlahan mulai meninggalkan permukaan tanah dan semakin excited akan pemandangan yang bakal dilihat nanti, akhirnya kesampaian juga cita-cita buat naik balon udara di Bagan. Semakin tinggi dan mulai tampak dengan jelas kumpulan pagoda ataupun kuil dikejauhan, kabut tipis menyelimuti beberapa bagian bangunan dan pepohonan. Sangat indah.
We-fie with our pilot!
Nah itu mobil (warna merah-putih) yang ngangkut kami dari hostel. Klasik!
Sekitar 15 menitan setelah lepas landas, tiba-tiba David berkata “Look at that sunrise!” sambil menunjuk kearah timur. Sontak penumpang menoleh dan benar apa yang disampaikan David, langit mulai menguning dan perlahan-lahan matahari menampakan wujudnya. Semakin tinggi membuat pagi pada saat itu perlahan menjadi hangat dan terang. Tampak dari atas sinar matahari mulai menembus sela-sela ranting pohon serta menyinari beberapa kuil pada pagi yang cerah itu. Ahhh ini dia pemandangan yang selama ini cuma aku liat di internet dan hari itu berhasil melihat dengan mata kepala sendiri.
 
Pemandangan pagi itu sangat menakjubkan. Hamparan pagoda maupun kuil dari yang berukuran besar sampai kecil, ditambah dengan pohon-pohon disekitarnya membuat suasana pagi itu sangat tenang dan senduuuu. Para penumpang sibuk mengabadikan momen langka ini, mereka mengambil gambar selama berada di dalam balon udara. Sementara David menjelaskan beberapa pagoda yang dilewati oleh balon.
Balon mulai mendarat
Sebelum take off, narsis dulu gan!
Terkadang David membawa kami terbang sangat rendah sampai keranjang penumpang dapat menyentuh pohon dibawahnya, satu balon udara dapat disi 16 orang. Ia juga sengaja memposisikan balon sejajar dengan pagoda agar para penumpang dapat mengabadikan dengan kamera siluet pagoda dengan latar belakang matahari terbit ataupun balon udara lainnya. David cukup interaktif pada waktu, ia berkomunikasi dengan penumpang, bercerita pengalamannya, dan bahkan menyapa orang yang ada dibawah, beruntung dapet pilot sekeren doi. 
 
Kurang lebih ada sekitar 20 balon udara menghiasi kota Bagan pagi itu. Seperti sedang berada di festival balon udara.
 
Matahari meninggi dan ,ulai terlihat dari atas beberapa aktivitas warga di Bagan. Ada yang baru keluar dari kuil setelah selesai sembahyang, beberapa kendaraan tampak melintas dijalan raya, sekelompok biksu yang menuju ke kuil, petani yang mulai menggarap kebunnya, sampai warga yang menggembala hewannya tampak jelas dari atas balon udara.
Greatings from inside the balloon! 
Champagne yang bikin perut agak kaget haha dan kartu post
Tidak terasa sudah lebih dari satu jam berada didalam balon udara, David mengisyaratkan balon akan segera mendarat. Para penumpang pun segera siap dengan posisinya masing-masing untuk mendarat. Pendaratan saat itu sangat mulus. 
 
Setelah semua dirasa aman akhirnya para penumpang dipersilahkan untuk turun. Tapi kesenangan belum berhenti, para penumpang balon udara dimanjakan oleh sarapan pagi dan membuka champagne. Pagi-pagi biasa sarapan ketan atau nasi, ini dikasih champagne sama kue atau roti. Alhasil perut pagi itu sedikit kaget hahaha udik banget dah! Tidak hanya itu kita juga dapat sertifikat dan post card balloon over Bagan.
 
Setelah semuanya selesai dan berpamitan dengan pilot kami yang keren, kami kembali menaiki bus dan diantar menuju penginapan masing-masing. Sempurna sekali pagi itu! Dari sisi operator balon udara yang sudah sangat professional dan ramah dalam melayani wisatawan, pemandangan pagi itu bener-bener keren! Sempat speechless ketika berada diatas sana haha!
Lukisan di dalam kuil yang mulai luntur
Melanjutkan wisata kuil dan pagoda di hari terakhir
Buddha statue di sebuah kuil yang bangunan sudah agak rapuh, didalam kuil ini masih ada beberapa patung Buddha lainnya
Cukup mahal biaya untuk sampai ke Bagan dan naik balon udara butuh kerja ekstra, tapi semuanya terbayar dan puas banget sama trip pagi itu. Biara kata gitu balik Indonesia jadi gembel haha! Jadi motivasi buat kerja lebih strong biar bisa jalan-jalan lagi 🙂

Jadi ada tips untuk menikmati Bagan di dalam / atas balon udara:
1. Berkunjunglah pada bulan Oktober-Maret, karena itu musim terbaik traveling ke Myanmar. Jadi cuaca bakalan bersahabat dan balon udara kemungkinan besar bakal mengudara.
2. Makan atau sarapan roti sebelum berangkat, karena sarapan dikasih setelah kita turun dari balon udara dan total trip dari berangkat sampai balik hotel sekitar 3 jam jadi paling nggak perutnya gak udik kayak aing klo kena champagne karena belum sarapan sebelumnya haha.
3. Kontak operator balon jauh-jauh hari kalo mau naik balon udara dan pastikan semua infonya jelas, paling bagus sih kalian punya nomer kontak yang selalu bisa dihubungi sama mereka kalo ada info yang butuh disampaikan. Saranku sih kasih nomer kontak penginapan kalian di Bagan aja kalo gak mau ganti nomer hape Myanmar selama jalan disana.
4. Karena udara cukup dingin paling gak pake lah pakaian yang bisa sedikit menghambat udara dingin merasuk hingga kalbu (halah!). Meski nanti diatas pas sunrise agak anget sih udaranya.
5. Menabunglah pemrisa! hahaha!

Sampai hostel, istirahat sebentar dan siangnya ngelanjutin kuil dan pagoda tour dengan sepada listrik yang keren dan awesome! Hari itu kami sekalian nyari info ke stasiun untuk keberangkatan kereta api ke Yangon sore harinya, yang ternyata memakan waktu (klik link disebelah buat baca ceritanya) –> 30 JAMPERJALANAN KE YANGON!
 
Sambil menuju stasiun Bagan, kami memulai pagoda dan kuil tour. Karena perjalanan ke stasiun melewati beberapa pagoda dan kuil, jadi sekalian lah dipuas-puasin ditambah ini hari terakhir kami di Bagan. Ketika balik dari stasiun menuju hostel pun kami melwati jalan lain yang memungkinkan kami melihat lebih banyak kuil dan pagoda yang unik.
 
Wisata di Bagan yang terkenal adalah mengunjungi kuil dan pagoda. Selain itu kita dapat trekking di Gunung Popa dan melakukan tour di sungai Irrawaddy. Karena jarak yang cukup jauh dan waktu kami yang gak banyak jadi kami hanya melakukan kuil dan pagoda tour. Letak antar tempat yang jauh dan banyaknya tempat yang ingin kami datangi kadang menjadi halangan untuk kami berlama-lama di satu tempat. Seperti ketika mengunjungi Inle, kami cuma punya waktu 16 jam karena harus melanjutkan ke Bagan yang memakan waktu cukup lama sekitar 8 jam perjalanan menggunakan bis, padahal banyak sekali tempat dan aktivitas di sekitar Inle yang dapat dilakukan serta dikunjungi.
Pengunjung didalam kuil
Dua orang itu sedang melukis dan menjual lukisan didalam kuil 
Udah gak tau berapa banyak kuil dan pagoda yang didatengin selama di Bagan haha
Sekitar pukul 4 sore kami check out dari hostel di New Bagan menuju stasiun menggunakan taxi dan membayar sekitar 80.000 rupiah. Karena pukul 5 kereta akan berangkat meuju Yangon. Saatnya mengucapkan selamat tinggal kepada Bagan yang cantik dan eksotis. Sampai ketemu lagi dan terima kasih buat pengalaman yang gak bakal terlupakan!
 
Kesan selama mengunjungi Bagan, yang pasti tidak lepas dari rasa kagum terhadap tempat ini dimana tidak hanya dari sisi pariwisata saja tetapi juga sisi sejarah yang masih bisa dipertahankan. Meski beberapa pagoda dan kuil tampak sudah rapuh dan keropos karena temakan usia dan juga akibat bencana alam namum terlihat ada usaha dari pemerintah Myanmar untuk tetap menjaga tempat ini agar tetap menyerupai seperti Bagan pada awal dibangun. Terlihat dari perbaikan, pengecetan ulang dinding atau bagian atap pagoda dan kuil.
 
Kami sempat mengunjungi sebuah kuil yang didalamnya terdapat gambar cerita Buddha. Sayangnya beberapa bagian dinding sudah luntur dan hancur sehingga seolah-olah ada beberapa bagian cerita yang hilang. Hal-hal ini tidak bisa dihindari karena memang usia bangunan yang sudah mencapai ratusan tahun. Tapi terlihat keseriusan pemerintah untuk tetap menjaga tempat ini dengan, pengunjung tidak diperkenankan mengambil gambar dengan lampu flash, bagian dalam kuil diberi pembatas agar gambar tidak tersentuh oleh tangan manusia, dan juga cara-cara lain untuk menjaga kelesatarian bangunan.
 
Di Old Bagan sejauh mata memandang, aku tidak melihat ada bangunan seperti hotel dan bangunan modern lainnya, penginapan dan tempat hiburan lebih banyak ditemui di New Bagan. Menjadi tantangan tersendiri ketika sebuah tujuan wisatawan dunia yang seterkenal dan didatangi oleh ribuan wisatawan tiap tahunnya. Bagaimana menjaga tempat ini tetap sakral dan namun sama sekali tidak mengurangi nilai sejarah dan keaslian dari Bagan. 
 
Aku pikir ini jadi tantangan setiap tempat wisata diseluruh dunia, mengingat maraknya informasi dari sosial media yang dalam sekejap bisa menjadikan sebuah tempat wisata terkenal dan sekaligus bisa juga dalam sekejap menjadi mesin penghancur tempat wisata itu.
 
Cheers, 

9 thoughts on “Bagan, Kota Tua Dengan Ribuan Kuil dan Pagoda (part 2-end)

  1. Halooo, waaah artikel bagus nih!!
    Anw aku dan rombongan ada plan kr Myanmar dan akan mengunjungi Bagan, kayaknya harus banget ya naik balon udara ini.. Tapi aku kok liat website nya muahal yaaa 🙁

    Boleh minta kontak gak? Siapa tau bisa tanya2 lebih detail, if i may sii 🙂

    Thanks!

  2. Tergolong mahal mbak, tapi waktu itu memang udah direncanain klo ke Bagan harus naik balon udara hehe. Sepadan sih menurutku, pemandangan sama pengalamannya gak bakal bisa dilupain.

    Waktu itu di booking-in temen di Myanmar mbak, kontak dari web site mereka bisa kok by email.

    Maaf baru sempet bales sekarang, gak tau kalau ada komen di artikel ini. Terima kasih sudah berkunjung semoga bermanfaat 🙂

  3. Thanks for the tips.. Awesome experience! Btw mau nanya waktu itu ke myanmar harus ada visa ga sih? Kalo ada, hrs apply di indo atau visa on arrival? Terus kmrn dr Yangon ke Bagan naik apa? Thx in advance.

    1. Halo! Terima kasih sudah mampir. Aku nggak pakai visa ataupun voa, cuma waktu itu mereka memberikan waktu berkunjung sesuai dengan yang sudah aku rencanakan. Jadi gak bisa extend2 lagi. Waktu itu aku ke Bagan dari Inle Lake di provinsi Mandalay menggunakan bus malem dengan 8 jam perjalanan. Kalau dari Yangon bisa pakai bis malam menuju Bagan atau kereta api, cuma kalo kereta api harus sedikit waspada karena waktu sampainya tidak pasti seperti yang pernah aku bagikan juga di blog ini tentang kreta api di Myanmar. Terima kasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *