Sagaing: Keseruan Yang Hampir Terlewatkan

Semalem mencoba untuk mensortir beberapa file foto di hard disk external. Ketika sampai pada folder Traveling dengan sub folder Myanmar, ternyata cukup banyak cerita yang belum aku sempat bagikan dan cukup sayang untuk tidak dibagikan, toh hidup akan lebih bermanfaat ketika bisa saling berbagi satu sama lain ūüôā

Mungkin beberapa postingan ke depan masih sekitar perjalanan di Myanmar. Untuk saat ini mari kita menjelajah kota Sagaing. Terletak sekitar 20km dari Mandalay, tempat ini memang tidak seterkenal Bagan, Yangon, ataupun Danau Inle. Tapi Sagaing punya keunikan sendiri, dimana kita dapat melihat kota dan sungai Ayeyarwady yang terkenal dari atas bukit. Tidak hanya itu saja, terdapat hamparan kuil dan pagoda seperti sedang berada di Bagan, juga peninggalan sejarah yang tak kalah asik.

Waktu itu aku dan Erick berangkat dari Mandalay sekitar jam 8 pagi naik angkot dengan membayar 1000 kyatt atau sekitar 10.000 rupiah. Waktu tempuh dari Mandalay ke Sagaing tidak jauh, mungkin sekitar setengah jam sudah sampai. Supir angkot menurunkan kami di dekat jembatan sungai Ayeyarwady, kami menyambung perjalanan kami menggunakan ojek. Ya ojek. Bisa dibilang trip ke Sagaing merupakan salah satu trip yang seru dan favoritku.

Klik untuk memperbesar gambar

 

Pemandangan dari Soon Oo Ponya Shin Pagoda, tampak sungai Ayeyarwady dan landscape Mandalay
Mejeng dulu di Soon Oo Ponya Shin Pagoda
Tiga orang Bhiksu cilik berbagi makanan di halaman Soon Oo Ponya Shin Pagoda
Dua orang Bhiksu mengobrol sambil berjalan menuju Soon Oo Ponya Shin Pagoda

Kami bertemu seorang supir ojek yang menghampiri kami, namanya Zaw Min Oo. Bahasa inggrisnya seadanya tapi apalah arti semua itu kalau ternyata aku paham maksud yang dia sampaikan. Ia menawarkan trip perjalanan mengunjungi beberapa tempat keren di Sagaing menggunakan motornya, karena namanya backpacker yang punya prinsip “menekan semua biaya perjalanan semurah mungkin, tapi tidak mengurangi esensi atau kenikmatkan perjalanan”, kami memilih ceng lu (istilah jawa yang satu motor diisi tiga orang). Waktu itu ia menawarkan harga 150.000an rupiah seharian sampai mengantarkan kami sunsetan di U Bein Bridge. Harga yang sangat pas untuk bayangan trip yang kami inginkan!¬†

 

Perjalanan pertama kami menuju bukit Sagaing, tepatnya U-Min Thonze Pagoda. Ditempat ini ada 45 patung Buddha yang berbaris rapi sepanjang ruangan lorong Pagoda. Perpaduan warna dan ukiran membuat tempat ini menjadi seolah-olah sangat berkelas. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Soon Oo Ponya Shin Pagoda, tempat ini cukup terkenal di Sagaing, dimana kita dapat melihat sungai Ayeyarwady dari atas bukit dan pagoda-pagoda kecil yang terhampar di kota Sagaing.

45 patung Buddha di U-Min Thonze Pagoda
Ibu dan anak berdoa di depan patung Buddha
Pintu masuk Soon Oo Ponya Shin Pagoda

Di Sagaing hampir sama dengan Bagan, banyak pagoda ataupun kuil yang bisa kita kunjungi. Ada sekitar 6 pagoda dan kuil yang kami datangi selama di Sagaing. Waktu itu kami juga sempat mampir ke Sitagu Buddhist Academy, dimana setiap orang yang ingin belajar atau mengetahui lebih dalam tentang agama Buddha dapat mengunjungi tempat ini. Banyak wisatawan dari Eropa, berkunjung ke Sitagu Buddhist Academy. Di tempat ini ada gambar candi Borobodur, Mendut, dan beberapa candi agama Buddha lainnya dari seluruh dunia yang diabadikan oleh seorang Bhiksu yang keliling ke beberapa negara untuk belajar dan mengunjungi peninggalan agama Buddha. 

 

Lumayan capek pantatnya naik motor seharian, kami bersama mamang ojek mampir ke warung kecil di Sagaing untuk makan siang bersama sekaligus istirahat. Menu utama adalah Myanmar food, dimana biasanya kita memilih main dish-nya ikan, babi, atau ayam kemudian mereka menyediakan makanan pendamping yang beragam rasa dan jenis. Cukup pas dengan lidahku masakannya orang Myanmar.

Ukiran di beberapa pagoda dan kuil Sagaing 
Sekelompok Bhiksu perempuan sedang melakukan tour di dalam Sitagu Buddhist Academy 
In love with Myanmar food
Ukiran di beberapa pagoda dan kuil Sagaing

Sebelum sampai Myanmar, aku sempat browsing mencari tempat-tempat unik yang bisa dikunjungi selama disana. Kemudian keluar lah Mingun Pa Hto Taw Gyi (lebih dikenal dengan Tawgyi) setelah diliat kok menarik tempatnya, dan ketika sampai Myanmar jujur tempat ini (bahkan Sagaing) tidak masuk dalam list destinasi jalan-jalan yang akan kami dikunjungi, karena permasalahan waktu yang gak banyak dan jarak (memang jarak selalu jadi masalah). Pada saat itu destinasi awal cuma sight seeing di Mandalay. Tapi ternyata terdampar sampai Sagaing. 


Karena sudah sampai sini, kenapa gak langsung ke Mingun aja, setelah bernego dengan Min Oo akhirnya kami ke Mingun, wohhooo! Selama perjalanan disajikan pemandangan sungai Ayeyarwady dan ternyata jalan menuju Mingun cukup jauh, agak off road dan sangat berdebu saat itu, pantas dia meminta biaya tambahan agar kami sampai ke Mingun.

Ditengah perjalanan menuju Mingun, mamang ojek mampir isi bensin motor dan kerennya pedagang bensin eceran disini ada yang udah pakai mesin kayak di pom bensin pada umumnya, semacam pertamini di Indonesia tapi ini pake mesin sob! Edan! 
 

Habis si motor diisi amunisinya, doi mampir lagi beli “snack” buat doi selama diperjalanan. Orang Myanmar doyan banget nginang, mungkin udah jadi kebiasanan. Hampir di tiap sudut jalan Myanmar pasti bakal ketemu orang yang ngunyah daun sirih terus-terusan kayak ngunyah permen karet. Tua, muda, bahkan anak-anak ada yang udah nginang. Gak jarang kita menjumpai warna merah di trotoar atau jalan raya bekas nginang.

Bensin eceran versi Myanmar. Swag!
Snack wajib penduduk Myanmar, nginang!

Sampai di Mingun, sekitar pukul 3 sore. Banyak wisatawan berkunjung kesini, cukup ramai pada saat itu. Kebanyakan wisatawan ketempat ini menggunakan mobil ataupun kapal dari Mandalay, karena tempatnya yang cukup jauh dan jalan yang gak begitu bagus. Kayaknya sih yang naik satu motor dengan isi 3 orang cuma kami saat itu haha, meski kayaknya sempat ngeliat ada wisatawan yang naik sepeda motor juga.

 

Pertama kami mengunjungi Pa Hto Taw Gyi, dan akhirnya kesampaian ngelihat stupa bersejarah ini. Terlihat retak di beberapa bagian stupa karena efek dari gempa bumi dan juga sudah termakan usia, pada bagian dalam terdapat patung Buddha yang bisa dikunjungi. Pengunjung juga dapat naik keatas stupa dan melihat pemandangan dari atas. Selama perjalanan ke atas stupa ada pemandangan unik buatku pribadi, banyak dupa yang diselipkan diantara bebatuan yang tidak utuh maupun retak. ternyata ini dari pengunjung yang berharap agar bangunan ini tetap mampu berdiri meski dibeberapa bagian terlihat sudah tidak utuh dan rawan akan rubuh.

Tampak depan dari Pa Hto Taw Gyi
Bagian dalam Pa Hto Taw Gyi
Pemandangan dari puncak Pa Hto Taw Gyi, masih terlihat bentangan sungai Ayeyarwardy
Dupa untuk “meyanggah”¬†Pa Hto Taw Gyi agar tidak runtuh

 

Narsis di depan¬†Pa Hto Taw Gyi mumpung pas sepi pengunjung ūüôā
Foto sebelumnya tadi tampak sepi pengunjung, soalnya mereka lagi antri mau naik ke atas Pa Hto Taw Gyi haha
Setelah dari Tawgyi mampirlah ke Mingun Bell. Tempatnya tidak jauh dari Tawgyi, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hampir sama dengan tempat sebelumnya, Mingun Bell pada saat itu sangat ramai pengunjung. Lonceng ini pada awalnya direncanakan diletakan di Mingun pagoda namun tidak pernah tercapai, sampai pada akhirnya Mingun pagoda hancur. Pada tahun 1839 lonceng jatuh akibat gempa bumi dan menimbulkan beberapa kerusakan minor, akhirnya pada tahun 1896 digantung kembali serta mengalami sedikit perbaikan. Lonceng dengan tinggi 5 meter ini merupakan salah satu lonceng terbesar didunia, dan saat ini masih bisa berfungsi dengan baik. 
 

Satu hal yang aku sayangkan ketika melihat bagian dalam lonceng ini terdapat kenang-kenangan dari pengunjung berupa coretan ataupun tulisan. Tangan-tangan tidak bertanggung jawab yang membuat nilai sejarah dari lonceng ini jadi sedikit berkurang. Namanya juga manusia.

Jejak yang ditinggalkan manusia dari dalam Mingun Bell ūüôĀ
Hiii rame banget pengunjungnya saat itu
Beberapa bhiksu kecil terlihat disekitaran pintu masuk Mingun Bell

Setelah dari Mingun, kami menuju pemberhentian utama dan terakhir, U Bein Bridge! Kenapa utama, karena memang awalnya pengen ketempat ini dari Mandalay dan seperti yang aku bilang diatas, Sagaing tidak masuk dalam itinerary selama di Myanmar. Tapi setelah ngobrol sama teman di Yangon, akhirnya Sagaing masuk dalam itinerary. Keseruan mengunjungi tempat ini hampir saja terlewatkan.

 
Min Oo kembali menggeber motornya dari Mingun menuju U Bein, entah gimana perasaan si motor seharian ini dipaksa naik turun bukit mengangkut 2 penumpang sekaligus hehe. 
 

Oke skip, singkat cerita sampailah kita di U Bein Bridge. Dari Sagaing sampai U Bein tidak jauh, sekitar 20-30 menit perjalanan.

Sagaing Hill dan Sungai Ayeyarwady yang masih sibuk. Sampai bertemu lagi Sagaing

Jam menunjukan sekitar pukul 5 sore. Seperti tempat-tempat lainnya U Bein pada saat itu ruameeee banget! Ada beberapa rombongan fotografer yang lagi hunting, ditambah tempat ini memang jadi salah satu daya tarik negeri Myanmar karena beberapa tourism tour menawarkan U Bein sebagai bagian dari paket perjalanan wisata mereka. Gak heran banyak wisatawan dari berbagai negara datang ke tempat ini. 

 
Jembatan yang memiliki panjang kurang lebih 1 km dan terbuat dari kayu ini cukup unik secara konstruksinya bisa dibilang cukup kuat, padahal dilewati beribu-ribu manusia dan menjadi jalan penghubung masyarakat di kawasan jembatan U Bein. Meski beberapa bagian ada yang sudah tergantikan dengan batu karena tidak kuat menahan beban (hidup (halah! haha)) :))
 
Sampai tempat ini aku gak banyak ambil gambar, disamping baterai kamera udah mau tewas mau dipakai buat ngambil momen sunset aja. Kami duduk santai dipinggir danau menikmati suasana sore, melihat perahu membawa pengunjung lalu lalang, sambil minum kelapa muda. Ahhh rasanya trip hari itu menyenangkan sekali. 
 

Yak, waktunya kembali ke penginapan di Mandalay. Min Oo mengantarkan kami sampai ke jalan besar, kemudian kami melanjutkan naik angkot dengan jalur yang sama waktu kami berangkat menuju Sagaing. Terima kasih buat Zaw Min Oo dan sang motor yang sudah berjasa mengantarkan kami berjalan-jalan melihat sisi lain dari Myanmar. Total sekitar 250.000an rupiah kami membayar jasa dari Ojan untuk mengantarkan kami berkeliling Sagaing sampai U Bein.

Pemuda yang sudah berkeluarga ini tidak banyak berbicara selama mengantarkan kami, hanya sesekali ia menunjukan tempat-tempat yang sebaiknya kami lihat dan abadikan selama perjalanan. Tapi jasa dia dan motornya yang tangguh sangat berguna buat kami, sekali lagi terima kasih Min Oo.

Oia buat yang mau ke Myanmar dan rencana mampir Sagaing, Min Oo memberikan nomer handphonenya kepada kami, katanya “kalau ada temanmu dari Indonesia mau ke Sagaing, telepon aku biar aku antarkan jalan-jalan”. Ini nomer teleponnya¬†09-33821210 (mudah-mudahan doi gak ganti nomer hehe), long live Min Oo!

Salah satu aktivitas yang bisa dilakuin di seputaran jembatan U Bein. Selow!
Seorang bhiksu menikmati suasana sore di U Bein Bridge
Sepasang anak yang bermain di pinggir danau dekat jembatan U Bein
U Bein menjelang sunset, banyak pengunjung berdatangan
Pemandangan yang ditawarkan di jembatan U Bein.  
Dua orang bhiksu berjalan diatas jembatan kayu U Bein
Diperjalanan pulang, terjadi perdebatan seru dengan kenek angkot. Sebut saja namanya Ojan. Ojan memasang tarif angkot yang beda pada waktu kami berangkat ke Sagaing, ia bilang 2000 kyatt per orang padahal harusnya 1000 kyatt perorang (padahal Min Oo sebelum meninggalkan kami mengatakan tarif sampai Mandalay 1000 kyatt per orang). Alasan Ojan saat itu tarif pagi dan malam beda. Memang saat itu kami meninggalkan U Bein sekitar pukul setengah 7 malam dan yang lebih bikin jengkel adalah kami diberitahunya sewaktu udah didalam angkot. Sempat beradu argumen sama kenek angkot dan kami meminta turun dari angkot, waktu itu angkot udah jalan sekitar 10 menitan.
 
Akhirnya angkot berhenti dan kami turun, setelah turun dari angkot, dipinggir jalan kami tetep diminta membayar 2000 kyatt, aku dan Erick menolak dan waktu itu intinya kami bilang 1000 kyatt atau kami gak bayar sama sekali ¬†dan cari angkot lain dengan nada nyolot dan gak mau kalah juga. Tripod kamera udah aku pasang mode “attack Ojan” kalau tiba-tiba ada “serangan” mendadak dari kenek angkot hehe. Akhirnya Ojan bersedia kami bayar dengan 1000 kyatt per orang dan mengantarkan kami sampai Mandalay.
 
Buat aku pribadi, scaming atau hal-hal kayak gini harusnya gak terjadi di dunia tourism dan kenapa kami ngotot tetep bayar 1000 kyatt. Memang kalau dipikir nominal itu sekitar 10.000an rupiah, tapi ketika praktek-praktek pemerasan terhadap wisatawan tetep terjadi kayak gini yang rugi adalah negara itu sendiri selain mendapat citra yang buruk bisa berdampak negatif buat pariwisata mereka dan kedua berdampak buruk terhadap orang-orang yang bergerak di sektor yang sama pula. 
 
Capek beradu argumen sama supir angkot kami mampir di kedai mie dan bakpao ketika sampai  Mandalay sambil negliat lalu lintas kota Mandalay yang cukup sibuk saat itu. 
 
Cheers, 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *