16 Jam di Inle Lake, Myanmar

Pagi itu dingin terasa menusuk sampai tulang, pukul 4 dini hari. Sempat tidak menyangka kalau udara akan sedingin ini di Nyaung Shwe. Bis malam yang mengantar  pada saat itu sudah pergi ke pemberhentian selanjutnya. Tiba-tiba datang seorang pria membawa tiket masuk kawasan wisata Danau Inle, cukup kaget karena seolah-olah tiket tersebut illegal, terlebih karena ia mencegat ditengah jalan begitu turun dari bis. Tetapi menjadi percaya setelah melihat kartu identitas yang tergantung dibadan petugas dan setelah bertanya kepada supir taxi setempat. Setiap wisatwan diwajibkan membayar 10 dollar Amerika dan tiket tersebut berlaku selama satu minggu dari hari kedatangan selama melakukan kegiatan wisata di Danau Inle.
The Famous Leg Rowing in Inle Lake
Perjalanan menuju pintu masuk Kuil Shwe Inn Dein
Lalu lintas pagi hari di danau Inle
Jalanan terlihat gelap dan sepi, kabut tipis menyelimuti beberapa sudut membuat suasana seolah-olah menjadi tambah dingin. Setelah menemukan tempat menaruh barang, pemandu kapal member sinyal agar segera berangkat ke dermaga untuk melihat matahari terbit dan menyaksikan nelayan yang mendayung perahunya menggunakan kaki dan mengangkat jala ikan.
 
Aku menaruh semua perlengkapan dan menggunakan jasa travel dari Mr. A Tun, recommended dan mereka punya paket lengkap untuk menjelajah Inle dan harganya juga tidak begitu mahal. Sehari sebelum berangkat ke Inle kami browsing di internet dan ada beberapa orang yang merekomendasikan travel agen dari Mr. A Tun. Karena aku dan Erick sampai terlalu pagi, kami harus menggedor rumah Mr A Tun pada saat itu dan untungnya kami disambut dengan ramah plus diberikan secangkir kopi panas. Sangat membantu mengurangi dinginnya udara pagi yang menusuk kulit.
 
Terletak di Distrik Taunggyi, Propinsi Shan, Danau Inle merupakan danau terbesar kedua di Myanmar. Berada di ketinggian kurang lebih 900 meter diatas permukaan laut (tidak salah kalau pagi hari udara disini sangat dingin) dan menawarkan berbagai macam keunikan serta keindahan membuat danau ini sangat terkenal dikalangan wisatawan. Mayoritas penduduk di Danau Inle adalah suku Intha, mereka tinggal dirumah panggung berbahan kayu di atas danau.
Myanmar Puppets
Stupa yang tersebar di kuil Shwe Inn Dein, beberapa ada yang sudah mengalami renovasi dan beberapa ada yang sudah rusak termakan usia. 
Seorang biksu cilik berjalan melintasi jembatan di danau Inle.
Perahu bermesin yang dapat diisi 5 orang itu, melaju kencang menembus kabut dan dinginnya danau. Setelah menunggu beberapa menit, mulai tampak bayangan nelayan dikejauhan, cahaya kuning matahari mulai tampak dilangit. Beberapa nelayan terlihat sedang mengangkat jaring ikan. Leg rowing fisherman, begitu orang menyebutnya. Para nelayan melilitkan tungkai kaki ke dayung perahu, dan menggerakan dayung dipermukaan air. Tradisi unik ini sudah diwariskan turun temurun, alasan nelayan mendayung menggunakan kaki adalah karena air danau tertutup dengan rumput dan tanaman air lainnya. Untuk mempermudah jalannya perahu, para nelayan mendayung menggunakan tenaga kaki sembari berdiri.
 
Pagi yang dingin menjadi hangat setelah matahari muncul dari balik bukit. Suasana danau yang hening menjadi ramai dengan banyaknya perahu yang berdatangan, baik perahu wisatawan maupun perahu nelayan.
 
Kuil Shwe Inn Dein dan sarapan di pasar tradisional
Perjalanan berlanjut ke sebelah barat Danau inle, Kuil Shwe Inn Dein. Memiliki lebih dari 1000 stupa kecil, kuil ini cukup terkenal di kalangan warga Myanmar. Untuk menuju ke kuil ini kita harus melewati lorong panjang dengan pilar-pilar tua di kedua sisinya. Ada beberapa pagoda yang sudah direnovasi dan sebagian masih bertahan dengan kondisi yang lama. Alasan beberapa pagoda ditempat ini direnovasi adalah, kondisi pagoda yang memang sudah sangat rusak dan ada beberapa penyumbang yang bersedia membantu dalam pembangunan pagoda-pagoda yang rusak.
Dalam perjalanan darat menuju kuil, ada sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai macam kebutuhan pokok sehari-hari. Pasar ini tepat berada di kaki kuil Shwe Inn Dein. Warga berdatangan berkumpul jadi satu di tempat ini. Ada juga aneka makanan khas Shan dan Myanmar khususnya, mulai dari Shan noodles, tea leaves salad, Shan rice crackers, dan lainnya. Sarapan dipasar ini bisa jadi pengalaman unik, karena kita merasakan langsung duduk bersama warga sekitar. Menyenangkan!
Warga sekitar danau, menyantap sarapan pagi mereka di pasar tradisional dekat kuil Shwe Inn Dein.
Sarapan pagi pakai Shan noodles 🙂
Beberapa anak terlihat sedang membeli snack di pasar tradisional.
Kalau berbicara tentang Myanmar, tentu tidak lepas dengan kuil, pagoda, dan biara. Begitu pula di Inle, ada beberapa kuil ataupun biara yang dapat kita kunjungi. Selain Shwe Inn Dein masih ada kuil Phaungdaw Oo, Biara Mya Thein Tan, Pagoda Taung Tho, Biara Nga Hpe Chaung atau yang biasa dengan Jumping Cat Monastery.
 
Dalam perjalanan menuju kuil atau pagoda, kita juga disajikan dengan pemandangan unik. Bagaimana masyarakat Inle sangat bergantung pada danau ini, mulai dari kegiatan mencari ikan, menghubungkan tempat satu dengan yang lainnya, bahkan sampai bercocok tanam di atas danau ini. Terlihat juga beberapa perahu membawa kebutuhan pokok dari Nyaung Shwe untuk warga Inle. Perekonomian warga tidak hanya dari mencari ikan saja, ada kerajinan tenun dan pandai besi yang dapat membantu perekonomian warga dengan menjualnya ke wisatawan yang berkunjung ke Danau Inle.
 
Tragedi Kamera Jatuh dan bertemu Suku Kayan
Di perjalanan aku tidak sengaja bertemu dengan suku Kayan atau yang lebih dikenal dengan istilah Padaung. Yaitu suku di Myanmar yang menggunakan gelang yang bertumpuk dileher mereka yang membuat leher mereka semakin panjang. Aku bertemu ketika mengunjungi sembuah took souvenir di Inle. Sepertinya keberadaan mereka ditoko ini hanya sebagai daya tarik turis, karena orang-orang Kayan yang datang di Inle sebagian besar pengungsi.
 
Aku pribadi memang sudah mencoret berkunjung ke desa mereka di Myanmar karena waktu yang cukup padat dan banyaknya tempat yang masih ingin dikunjungi. Tapi ketika melihat mereka di Inle, aku cukup bersyukur meski tidak bertemu di tempat asal mereka aku masih bisa melihat sendiri salah satu suku khas di Myanmar yang sangat terkenal ini.
Suku Kayan atau yang biasa disebut Padaung
Mereka membuat tenun untuk dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke toko souvenir ini.
Seorang biksu melintasi jembatan kayu dengan latar belakang pegunungan pada pagi hari. 
Wanita suku Kayan menggunakan “cincin leher” ini saat kecil, dan sejak saat itu setiap tahun cincin tersebut harus ditambah terus menerus. Akibat banyaknya cincin yang bertumpuk membuat bagian bahu menekan kebawah dan membuat tulang leher semakin tertekan yang membuat leher para wanita ini terlihat panjang.
 
Dalam perjalanan sehabis bertemu Suku Kayan terjadi sebuah insiden yang buat aku hampir pengen langsung balik ke Indonesia. Didalam phaung daw oo pagoda ketika sedang mempersiapkan tripod buat ngambil stock video, kamera yang aku sangkutkan di lengan mendadak terjun bebas dan jatuh kelantai. Ga ada kerusakan di bagian luar kamera, tapi gitu dibuat motret cermin didalam kamera gak berfungsi dan gitu di preview hasil fotonya cuma gradasi ungu mengarah ke warna hitam. F!
 
Alhasil semua mood mendadak hancur, yang dipikiran cuma di Nyaung Shwe ada tempat servis kamera gak? Karena perjalanan masih jauh dan habis dari Inle kami akan menuju Bagan yang notabene adalah puncak dari semua trip ini, gak kebayang kalau sampai sana gak ada dokumentasi sama sekali. Pasca kejadian selama trip di Inle bener-bener lemes dan gak semangat, padahal masih ada beberapa tempat yang harus didatengin.
 
Akhirnya begitu sampai di Mr. A Tun, aku makan siang dan penasaran kira-kira bisa gak kalau kamera ini diperbaiki sendiri. Karena sudah tanya-tanya orang dan ternyata gak ada servis kamera didaerah sini. Rusaknya dibagian cermin kamera yang buat kamera tidak bisa menghasilkan gambar. Dengan bantuan Erick, aku coba “mengoperasi” kamera dengan pemikiran kalau tambah rusak berarti memang jatahnya di Bagan gak ada dokumentasi dan kalau berhasil berarti semesta mendukung perjalanan ini. Viola! kamera berfungsi seperti sedia kala! Fiuhhh.  
Seorang nelayan mendayung dengan kaki sembari mengangkat jaring ikan yang sudah dipasang sejak semalam.
Perahu merupakan transportasi utama bagi warga sekitar danau dalam berkegiatan sehari-hari. 
Sekelompok pelajar sedang berdoa di dalam kuil. 
Matahari semakin meninggi. Rasa dingin yang dirasakan pagi tadi begitu saja lenyap dan digantikan dengan hawa panas yang menyengat kulit. Tak terasa sisa waktu mengunjungi Danau Inle hampir habis dan dari kejauhan sudah terlihat dermaga Nyaung Shwe yang menandakan boat tripsudah selesai. Tapi bukan hanya di Danau inle saja kita dapat berwisata, di sekitaran danau juga terdapat tourism spot yang bisa dikunjungi. 
 
Memang tidak cukup hanya sehari mengunjungi Danau Inle, banyak tempat-tempat eksotis yang masih bisa di jelajahi. Mulai dari hiking dan trekking, menyewa sepeda dan berkeliling Nyaung Shwe ataupun Inle, belajar mendayung perahu dengan kaki, mengunjungi museum, mencicipi masakan khas Shan, puppet show, dan lainnya.
Myanmar bukan hanya Danau Inle saja, masih banyak tempat-tempat eksotis lainnya yang harus dikunjungi. Mungkin lain kali ada kesempatan (lagi) untuk bisa lebih lama untuk menjelajah tempat ini dan mendekatkan diri dengan warga Shan. Akhirnya pada pukul 8 bis malam menuju Bagan sudah tiba, saatnya benar-benar mengucapkan selamat tinggal untuk keeksotisan dan kesejukan Inle.
 
Cheers,

0 thoughts on “16 Jam di Inle Lake, Myanmar

  1. Wah, maaf baru sempet buka blog. Ada beberapa kendala yang buat jarang update tulisan lagi hehe. But soon there will be a new post, makasi udah mampir dan meluangkan waktu buat membaca, really appreciate it!

    Cheers! 😀

  2. Hi. Waktu itu aku cari info dari http://wikitravel.org/en/Inle_Lake plus ini nomernya di wiki travel, mudah2an masih sama 0943197443 atau nggak, bisa juga gitu sampai Nyaung Shwe tanya warga sekitar aja pasti bakal dibantu.

    Waktu itu kalau dirupiahin sekitar 200 ribuan per orang mulai dari sebelum sunrise sampai sekitar jam 2 siang. 🙂

  3. Selama di Myanmar aku selalu minta tolong atau tanya petugas hostel buat booking tiket bis, soalnya kadang mereka bisa kasih rekomendasi bis mana yang baik kondisinya plus nanti turun dimana gitu sampai tujuan. Sekalian jalan-jalan kalau ternyata harus ke travel agent atau terminal bis :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *