Perjalanan 30 Jam Diatas Kereta Api Menuju Yangon

Cukup produktif untuk mengupdate blog beberapa hari ini. Sayang kalau beberapa pengalaman seru nggak dishare, toh buat apa juga kalau cuma disimpen sendiri *halah apaan dah!

Ok, masih seputar jalan-jalan di Myanmar dan semoga nggak bosen dengan topiknya hehe. Menjelang 2 hari terakhir di Myanmar, aku dan Erick berencana mau nyoba naik Kereta Api di Myanmar. Secara undah nyoba angkot, bus, dan kayaknya kereta api sepertinya bakal jadi pengalaman yang menarik. Kami memilih rute kereta dari Bagan menuju Yangon.

Sempat ada yang menyarankan kalau bisa jangan naik kereta api, karena akan memakan waktu yang lama dan tidak pasti (haduhhh bahkan sekarang  kereta api bisa PHP-in orang) kapan sampai. Karena sudah menjelang hari terakhir di Myanmar dan di Yangon niatnya memang santai menikmati hari-hari terakhir, maka dengan bulat tekat memilih transport kereta api ini.
Nggak sengaja ketemu Yans di Bagan, beberapa jam sebelum balik ke Yangon
Hari terakhir di Bagan cukup membuat galau, tempat ini terlalu keren dan nyaman sekali buat para pelancong (Coming soon, story about Bagan, the Ancient City). Setelah melakukan temple, pagoda, monastery tour dengan sepeda elektrik yang sempet mogok, kami sekalian ngecek harga tiket dan jadwal keberangkat kereta api di Stasiun. Perjalanan menuju stasiun cukup berat, karena ditengah jalan baterai sepedaku mendadak drop dan macet, meh! Hasilnya aku nunggu dipinggir jalan dan Erick yang ke stasiun nyari info. Setelah dapet tiket, kami makan siang dan minta tolong warga lokal telepon-in rental sepedaku biar mereka bawain baterai cadangan sekaligus dicek kondisi sepedanya.
 
Setelah semua oke, kami melanjutkan tour keliling kota Bagan dengan sepeda sekaligus balik ke hostel, karena kereta kami berangkat jam 5 sore. 

Pas berhenti disalah satu Pagoda secara tidak sengaja ketemu Yans, sebelumnya kami bertemu dia sewaktu di Than Lwin Guest House, Yangon, sempat bertukar cerita dan sekarang ketemu di Bagan. Man! Dunia memang sempit atau memang gak banyak wisatawan di Myamar haha. 

Soalnya kami juga sempet ketemu dengan salah satu pelancong dari Inggris yang waktu itu ketemu di Yangon, waktu kami berkunjung ke Kyaiktyo Golden Rock. Setelah berfoto dan bertukar kontak dengan Yans, kami melanjutkan perjalanan ke hostel dan packing buat ngejar kereta jam 5 sore, sampai ketemu diperhentian selanjutnya Yans. Kami akan menempuh perjalanan kurang lebih 17 jam total dan itu berarti sekitar jam 10 atau 11 pagi sudah sampai Yangon. We’re readyyyy!
Sunset diperjalanan
Time to say good bye to beautiful Bagan. Kereta udah dateng jam 16.50, beberapa penumpang udah naik dan tinggal nunggu aba-aba dari petugas stasiun buat berangkat. Ada 3 kelas di kereta api yang aku pakai, Upper class sleeper, upper class seat, first class seat. Bedanya adalah kalau upper class sleeper ada tempat tidurnya dan bentuknya semacam bilik kamar, kalau  upper class seat satu gerbong cuma ada tempat duduk hadap-hadapan dilapisi bantalan, dan kalau first class seat hampir sama dengan upper class seat cuma tempat duduknya gak ada bantalannya dan keras.
 
Harganya juga beragam, upper class sleeper sekitar 17 USD, upper class seat 9 USD, dan first class seat 5 USD. Tergantung budget aja mau yang mana. Kemarin kami pakai yang upper class seat karena budget juga terbatas, tapi gitu liat yang upper class sleeper cukup menarik, jadi pengen upgrade haha. Gitu ngecek di loket tiketnya udah sold out hahaha nasib! Untungnya kereta saat itu gak terlalu rame, jadi seat yang harusnya dipake 4 orang bisa dipake 2 orang, lumayan.
Memang butuh kesabaran naik kereta di Myanmar. Selain waktu tiba yang nggak pasti dan juga kecepatan kereta yang hanya 20-40 km/jam
Tepat pukul 5 sore kereta mulai jalan. Sangat pelan mungkin sekitar 20-40 km/jam dan pada saat itu mikirnya adalah “oh mungkin karena ini baru mulai jalan jadi masih pelan, nanti mungkin ditambah kecepatannya”. Hampir satu jam berlalu kok kayaknya kecepatannya gak nambah-nambah ya hahaha.
 
Sunset pada saat itu keren banget! Beruntung selama melakukan perjalanan di Myanmar cuaca selalu mendukung dan cerah terus. Panasnya kebangetan, tapi mending milih panas daripada hujan. Hampir setiap melewati stasiun kereta ini selalu berhenti (semacam kereta ekonomi di Indonesia). Ada sedikit pemandangan yang berbeda setelah kereta jalan dari stasiun Bagan. Dari luar terlihat anak-anak melambaikan tangan dan ada yang mengejar kereta meminta “sedekah” dari para penumpang saat itu. Kami sempat memberikan snack yang kami punya kepada mereka. Yang membuat aku heran adalah darimana datangannya anak-anak ini? Karena sejauh mata memandang disekitar tidak terdapat perumahan penduduk dan hanya terdapat lahan luas yang kering. Sepertinya mereka sudah hapal kapan kereta akan melintas.
Another ordinary sunset in Myanmar
Waktu sekitar pukul 6.30 malam, masih tampak cahaya warna kuning sisa matahari yang sudah terbenam. Erick sudah tidur, ni bocah tipikal yang pelor (nempel langsung molor) banget! Gak di bus, gak dikereta cepet banget molor. Aku masih melihat keluar jendela, pemandangan yang cukup sayang untuk dilewatkan mengingat tinggal beberapa hari di Myanmar, sekaligus merenung plus mikir masa depan hahaha. Semakin gelap udara semakin dingin, kami memilih untuk menutup jendela dan menunggu kapan kereta akan berhenti untuk membeli makan malam atau kalau saja ada pedagang yang melintas di dalam gerbong dan menjual makan malam.
 
Playlist di handphone mulai masuk ke lagu-lagu selow. Sepertinya udah waktunya untuk molor, biar tahu-tahu sampai Yangon aja pas bangun hahaha. 

Sekitar jam 2 atau setengah 3 pagi aku kebangun. Posisi kereta saat itu sedang berhenti dan cukup kaget karena pas bangun tas yang isinya kamera, uang, passport, laptop  gak ada ditempat plus Erick gak ada dikursinya. Ok mulai panik dan segera turun dari kereta. Ternyata tas dibawa Erick yang sedang bercengkrama mesra sampai berselfie dengan petugas kereta didepan warung. Aihhh padahal udah lemes gitu bangun tas gak ada di kereta.
Sekumpulan anak yang meminta sedekah diperjalanan
Ternyata kereta udah berhenti dari 1 jam yang lalu, soalnya ada kereta dari Yangon menuju Bagan yang rusak dan harus nunggu buat pindah jalur. Kurang paham posisi kami ada dimana saat itu, saya melanjutkan tidur kembali karena pagi itu udara cukup dingin. Ketika pagi tiba pun, kereta masih belum jalan dan tampak beberapa penumpang mulai cemas. Kami sarapan di warung dekat stasiun dan ada beberapa wisatawan asing yang sudah tidak sabar karena sudah cukup lama kereta berhenti dan tidak ada kejelasan kapan akan jalan (ini mungkin yang dimaksud ketidakpastian atau PHP ala kreta api di Myanmar haha). Kami sempat berfikir untuk naik bus melanjutkan perjalanan ke Yangon karena sudah hampir 6 jam kereta berhenti di titik yang sama.
Mereka berebut snack
Setelah mendapat jawaban dari pihak stasiun kereta mulai berangkat pukul 9 pagi dan sirna sudah harapan sampai di Yangon tepat waktu. Karena waktu kami lihat di map, jarak antara Yangon dengan tempat kami saat itu masih cukup jauh. Waktu itu aku berfikiran mungkin 3-4 jam lagi sampai.
 
Kami tidur siang dengan harapan dan doa yang sama dengan semalam, semoga pas bangun udah sampai Yangon plus bisa skip makan siang lah hahaha. Sore bangun pun belum ada tanda-tanda suasana perkotaan, kami masih melewati sawah dan sungai. Ok! Udah mulai gak sabar soalnya hampir 24 jam perjalanan plus perut lapar pemirsa!!! Untung kereta saat itu sempat berhenti di stasiun yang lumayan besar dan kami membeli nasi goreng dan gorengan buat makan malam. Yang penting makan! Ditambah beberapa snack dan air putih soalnya persedian awal sudah habis.
 
Udah sampai tahap yang gak se-excited pas liat sunset kemarin haha. Yak! Ini sunset kedua dikereta yang sama dan menuju ketempat yang (masih) sama!! Aaarrrggghhhh!!! Kemarin yang liat sunset bisa sambil motret dan memuja keindahaannya, sekarang sampai yang lempeng aja liat sunset yang masih keren sih sebenernya haha.
Stasiun tempat kereta berhenti selama 6 jam

 

Jam 9 malam dan kapan sampai Yangonnnn, masa iya subuh baru sampai. Kereta masih jalan dengan lambat dan mulai kelihatan beberapa bangunan tinggi, gitu lihat di peta sepertinya Yangon udah dekat kurang lebih 3-4 stasiun lagi. Bener aja, beberapa penumpang mulai berkemas barang dan sepertinya tujuan akhir semakin dekat. Sekitar jam 11 malam kurang 15 menit AKHIRNYA sampai di Yangon!!! Gila! Di kereta 30 jam pemirsa!! Dari yang woles menikmati perjalanan, sampai yang mulai sedikit misuh kapan sampai dan mulai gelisah hahahaha. Yang bikin gak sabar adalah waktu kami 1 hari terbuang, ketika harusnya bisa sampai di Yangon pukul 11 pagi kami dapat melakukan sesuatu di Yangon. Entah pergi mencari oleh-oleh atau ketempat-tempat seru lainnya. Kalau saja nggak nunggu kereta yang diperbaiki dan harus pindah jalur didepan kami, kalau saja jalannya kereta api lebih cepat, kalau saja, kalau saja, dan kalimat kalau saja terlintas dikepalaku. Tapi mau gimana lagi, insiden kereta berhenti 6 jam itu yang gak bisa dihindari.
 
Capek memang, tapi satu sisi dapet pengalaman baru buat aku pribadi.  It worth to gain some perspective on local life, you will see the real Myanmar. Bagaimana beberapa bagian, bahkan sebagian besar penduduk disana masih hidup kekurangan, perkampungan kumuh, sungai yang jauh dari kata bersih, dan kehidupan diluar hiruk pikuk megahnya kota Yangon bisa terlihat dengan berpergian menggunakan kereta api. Best travel experiences by using train so far!
 
So during my trip to Myanmar, I don’t just see any good things, breathtaking scenery, which makes my eyes becomes happy and pleasant. I was also given the opportunity to see the unpleasant things which make this trip more complete. That’s life!
 
Cheers,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *