Ngerayain Pergantian Tahun yang BEDA di Kyaiktyo Golden Rock, Myanmar

Salah satu alasan aku kemarin memilih pergi ke Myanmar bertepatan dengan tahun baru adalah pengen ngerasain suasana tahun baru yang beda. Karena selama lebih dari 20 tahun (anjir ketahuan umurnya! Haha) ngerayain tahun baru di Indonesia terus, jadi gimana kalau sekali-kali ngerayain pergantian tahun di luar Indonesia dan kebetulan Myanmar jadi negara pertama.
 
Sebelum berangkat searching di Internet siapa tahu ada perayaan unik menjelang tahun baru di Myanmar, jadi bisa sekalian ngerasain hal unik di negeri orang. Setelah di searching, keluarlah bakal ada festival menjelang pergantian tahun baru di Kyaiktyo Golden Rock Pagoda, pas! Soalnya dari itinerary juga bakal mampir kesana.
Gerbang masuk dan pemeriksaan menuju Pagoda.
kalau capek naik tangga menuju Golden Rock, bisa juga menggunakan jasa angkut kayak gini. Kalau orang dewasa nanti disiapin tandu.
Biksu cilik berdoa di depan Golden Rock.
Singkat cerita, berangkatlah aku dan Erick dari Yangon ke Kyaiktyo. Kita memilih menggunakan bus untuk sampai kesana. Waktu itu kami pakai Yoe Yoe Lay bus, berangkat sekitar jam 7 dari Yangon dengan estimasi perjalanan sekitar 3-4 jam. Pemesanan tiket pada waktu itu langsung dari guest house tempat kita nginep, minta tolong di teleponin agen tiket sekaligus booking buat dua orang.
 
Bisnya cukup nyaman, ber-AC, ada tivinya, plus bersih. Selama perjalanan di bus diputar video dagelan-nya orang Myanmar, beberapa penumpang bisa ketawa lepas nonton itu tapi buat kita berdua cuma bisa bengong karena gak paham maksudnya. Oke lebih baik kita tidur! Haha. Kurang inget harga pasti tiketnya, kemungkinan sekitar 5000-8000 Kyatt atau sekitar 70 ribu sampai 100 ribu  rupiah sekali jalan (maaf kurang bisa kasih harga pasti maklum faktor U haha).
 
Jam 12 siang bis udah sampai Kyaiktyo, tapi itu belum tujuan akhir. Kami harus naik truck untuk sampai ke Golden Rock. Ya, Pagoda tempat tujuan kami terletak di puncak bukit dan butuh sekitar 15-30 menit lagi untuk sampai kesana dengan menggunakan truck. Karena tidak terlalu terburu-buru, kami memilih mengisi perut terlebih dahulu setelah itu baru menuju pemberhentian terakhir untuk merayakan pergantian tahun.
Ini bukan festival 1000 lilin yang dimaksud. Cuma persembahan di depan Golden Rock.
Para peziarah berdoa sembari menempelkan kertas emas pada Golden Rock.
Salah satu tempat persembahyangan di sekitar Golden Rock.
Kami harus membayar 2000 kyatt sekitar 30.000 rupiah untuk sampai ke tujuan akhir. Semacam naik roller coaster tapi versi truck! Pertama trucknya gak ada atap dan otomatis kami semua semacam jadi ikan asin yang di jemur dibawah panasnya matahari Myanmar siang itu. Kedua, tempat duduk yang sempit, kami diingatkan sama Mae (pengelola guest house kami di Yangon) kalau “ you need to squeeze when you sit in the truck” soalnya biar keliatan penuh dan trucknya segera jalan (semacam angkot di Indonesia lah), tapi untungnya kursinya gak hadap-hadapan. Ketiga adalah jalan menuju Golden Rock yang luar biasa nanjak dan berbelok-belok parah, kenapa aku bilang semacam naik roller coaster barusan. Sensasinya luar biasa! Fun!
 
Yes, akhirnya sampai ke tempat tujuan. Begitu turun truck, man! Tempat itu penuh bangetttt, semacam semua orang Myanmar kesini buat ngerayain pergantian tahun. Kami harus jalan sedikit menanjak untuk sampai ke tujuan akhir, sepertinya derita ini tiada akhir haha! And boom! Kami harus bayar tiket masuk, padahal muka udah mirip orang Myanmar masih kena juga, tiket masuk berlaku buat wisatawan mancanegara aja. Sekitar 5000 kyatt atau 6 USD satu orang dan jangan ngeluarin kamera sebelum ketemu loket tiket. Soalnya bisa kena charge lagi kalau kita bawa kamera, lebih baik simpen kamera di tas gitu lewatin gerbang pemeriksaan baru deh dikeluarin hehehe.
 
Semakin jalan naik, semakin banyak pengunjung hari itu. Yang lumayan bikin kaget, gitu kami masuk ke halaman Pagoda banyak pengunjung yang udah gelar tikar, alas buat tidur, selimut buat bermalam. Edan halaman pagoda penuh banget!! Bahkan ada yang bikin semacam tenda biar lebih nyaman tidurnya, hampir ditiap sudut ada pengunjung yang udah gelar tempat tidur sementaranya. Well prepared! Senja udah mulai kelihatan, setelah makan malam kami masuk lagi ke halaman pagoda buat mengambil beberapa gambar dan menikmati Golden Rock sore itu. Ahhhh, setelah beberapa tahun lalu lihat foto ini di internet akhirnya bisa juga ngeliat secara langsung di penghujung tahun 2014. I am lucky enough!
Malam tidak membuat tempat ini sepi peziarah.
Pengunjung masih tetap berdatangan meskipun waktu sudah hampir menunjukan pukul 10 malam.
“Tenda darurat”. Peziarah yang datang sudah mempersiapkan tempat tidur sementara di halam Pagoda.
Sekitar jam 7an malam, suasana semakin gelap dan angin pada saat itu makin kencang. Dari yang pertama niatnya “ngemper” di halaman Pagoda jadi yang menggunakan plan B buat nyari penginapan MURAH! Hehehe. Gak nyangka bakal sedingin itu, padahal Mae juga ngingetin kalau bawa jacket tebal dan celana panjang karena suasana bakal dingin. Apa yang udah disiapin gak mempan coy! Sebenernya udaranya gak gitu dingin, tapi kalau udah ada angin berhembus, aihhh rasanya kayak dikhianati pemirsa dan terima nyari penginapan deh.
 
I choose the right travel buddy, Erick jago banget kalo udah urusan tawar menawar sama orang. Jiwa dagang plus jati dirinya (he’s Chinese by the way hehe) keluar. Nawar biar kita bisa tidur gratis di rumah orang tapi ternyata gagal, nawar hotel dari yang semula harga 500 ribu bisa dapet 300 ribu biar kata dikamar Cuma ada satu tempat tidur buat berdua plus sarapan mie instan yang penting gak kedinginan di luar dah, you rock dude! Oia, kami bermalam di Yoe Yoe Lay juga. Sepertinya doi ini semacam ciputra grup di Indonesia deh, perusahaannya banyak benerrrrr.
 
Selesai urusan penginapan, kami ngecek (lagi) ke dalam Golden Rock kali aja persiapan buat perayaan seribu lilinnya udah dimulai. Sampai halaman ternyata belum ada tanda-tanda bakal ada perayaan lilin, yang terlihat cuma beberapa biksu berdoa, pengunjung yang masih khusyu berdoa, ada yang sudah terlelap, dan ada yang masih mendengarkan ceramah biksu. Saat itu positif thinking kami adalah “mungkin memang belum disiapin” jadi kami turun kembali kedepan penginapan sekalian nyari wifi. Gak disangka biar udah mau menjelang tengah malam pengunjung tetap berdatangan.
Beberapa peziarah mendengarkan ceramah biksu.
Perayaan tahun baru yang singkat dan beda buat aku pribadi.
Oia, kami hampir memutuskan untuk turun ke bawah karena tidak tampak tanda-tanda akan terdapat festival, tapi yang bikin ciut nyali adalah kami harus berjalan kaki karena truck sudah tidak beroperasi malam itu plus tidak ada penerangan dijalan malam itu. Kami sempat bertanya ke loket tiket masuk dan tempat berdoa di sekitar pagoda mereka bilang acara pemasangan banyak lilin nanti akan ada (entah mereka tidak mengerti maksud kami atau memang kami yang salah dengar).
 
Kira-kira tinggal sejam menuju pergantian tahun baru, terlihat di depan penginapan kami akan ada acara buat menyambut tahun baru. Beberapa penari dan dapur umum terlihat sudah bersiap. Hitung mundur dimulai and HAPPY NEW YEAR 2015!!! Ada beberapa kembang api yang menghiasi langit malam itu, para penari mulai bernyanyi dan menari bersama beberapa pengunjung malam itu. Pengunjung dapat menikmati bubur khas Myanmar yang sudah disiapkan oleh pihak penginapan secara gratis! Semua boleh makan. Perayaan berlangsung sekitar 20menitan setelah itu suasana kembali hening. Oke.
Bubur khas Myanmar yang dibagikan secara gratis. Rasanya gurih.
Lonceng permohonan. Kita dapat mengaitkan lonceng-lonceng berisi doa-doa dan permohonan di depan Golden Rock. Hampir mirip gembok cinta di Prancis atau Korea.
Karena masih penasaran, kami mencoba mengecek (lagi!) ke pagoda dan suasana benar-benar hening! Tidak tampak ada seribu lilin yang memang disiapkan saat itu. Karena masih penasaran, kami mencoba menelusuri halaman pagoda, kali aja perayaan tersebut diadain di tempat tersembunyi hahaha. Tapi tak tampak ada tanda-tanda festival seribu lilin. Hahahahaha! Disatu sisi, sehari sebelum berangkat kesini kami diundang Yuzana (teman baru kami yang sangat keren di Yangon) untuk barbecue bareng teman-temannya sekalian ngerayain pergantian tahun bareng. Tapi tekad kami sudah bulat dan tidak bisa dirubah lagi kami harus berangkat lihat destival ini, tapi….
 
Akhirnya kami kembali ke penginapan, ngucapin tahun baru ke sesama pengunjung Golden Rock ataupun tamu di penginapan dan mencari wifi untuk memberi ucapan selamat tahun baru buat teman-teman dan keluarga di Indonesia, setelah itu tidur.
 
Besok pagi yang rencana mau liat sunrise pun sirna! Soalnya baru bangun jam 9 pagi, meh! Hahaha. Nothing goes according to plan but still fun, because we got more stories to share! 😛
Pengunjung yang terbangun dimalam hari diantara banyaknya orag yang tidur dihalaman malam itu.
Suasana Golden Rock Pagoda malam hari.
Masih memanjatkan doa dan permohonan meskipun malam semakin larut.
Pagi sebelum beranjak meninggalkan Golden Rock, kami kembali ke naik keatas buat ngambil beberapa gambar dan stock buat video project kami. Terlihat ada banyak makanan dan minuman tersusun rapi di halaman Pagoda. Sempat berpikir, apa ini upacara seribu lilinnya? Hahaha (masih penasaran) tapi karena kami harus mengejar bis pukul 12 siang ke Yangon dan melanjutkan perjalanan ke Mandalay malam harinya, kami tidak bisa berlama-lama dan harus segera turun.
 
Semua tidak sesuai ekspektasi, tapi perjalanan ke Kyaikitoe tetap menyenangkan dan unforgettable! The best new years party ever (so far) haha.
 
Tujuan awal kan memang mencari sesuatu plus suasana yang berbeda dalam merayakan dan menyambut tahun baru, nah ini udah beda banget! BEDA! Gak mainstream! 😀
 

 

Cheers,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *