Ada bagian yang hampir hilang dalam tradisi Ogoh-Ogoh

Salah satu hal yang menarik sehari sebelum Nyepi di Bali adalah moment perarakan ogoh-ogoh. Salah satu budaya yang sudah dikenal secara luas ini memang pantas buat dinanti saat menjelang Nyepi. Dimana seolah-olah pulau Bali diserang oleh kawanan Leak ataupun Rangda, dan bermacam-macam wujud setan lainnya. Karena pada malam itu, suasana diseputaran jalan di pulau Bali menjadin ramai, perwujudan setan ini diarak keliling kota, suara gaduh terdengar hampir disetiap sudut perempatan jalan.

Nyepi tahun ini memang pas, berada di hari Senin dan begitu banyak orang dari luar pulau Bali sengaja memanfaatkan momen ini buat berlibur ke Bali dan menikmati pawai ogoh-ogoh sekaligus merasakan Nyepi keesokan harinya. Long weekend.

Ogoh-ogoh sendiri adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Rakshasa (wikipedia).

Seperti biasa pada malam itu suasana di Denpasar sangat ramai, jalanan penuh dengan bermacam-macam jenis ogoh-ogoh. Kendaraan bermotor “dipaksa” menepi agar pawai ini dapat berjalan lancar.

Tapi ada satu hal yang membuat saya cemas dari tradisi ogoh-ogoh ini. Tepatnya tahun lalu (2013), saya melihat hampir ada yang hilang dari tradisi umat Hindu ini, dan tahun ini masih terjadi. Pertama, penggunaan streofoam dalam pembuatan ogoh-ogoh. Dulu ketika saya SD sampai SMP saya suka melihat orang membuat ogoh-ogoh dan penasaran hasilnya akan seperti apa, karena pada saat itu rata-rata ogoh-ogoh di Bali terbuat dari gedeg (bambu yang dianyam), kayu sebagai rangka utama, kertas semen atau koran, kemudian di cat. Tetapi sekarang mayoritas terbuat dari stereofoam.

Ya memang proses pembuatannya lebih mudah, biaya mungkin bisa jadi lebih murah, dan hasilnya juga bakal lebih keren karena mudah dibentuk. Tapi penggunaan stereofoam sendiri buat lingkungan kurang bersahabat. Tantangan yang didapat kalau menggunkan gedeg juga lebih menarik, karena dituntut lebih kreatif dalam membentuk dan mengayam.

Kedua, musik yang dihasilkan dari gamelan bali pada saat pawai perlahan-lahan hilang. Ya, saya mulai merasa aneh ketika mendengar lagu oplosan, house musik, musik dugem, dangdut pada saat pawai ini berlangsung. Padahal suara musik yang dihasilkan dari gamelan lebih enak didengar, suasana “pesta” budayanya lebih terasa dari pada musik yang dihasilkan dari sound system dan DJ. Kesan yang timbul adalah beberapa kelompok lebih mementingakan musik dan ogoh-ogohnya sendiri jadi nomer dua. Karena banyak juga yang berpartisipasi dalam pawai ini tapi tidak mewakili atau ikut bersama banjar, melainkan dari inisiatif kelompok-kelompok kecil di sekitaran banjar yang notabene tidak memiliki perangkat gamelan.

Beberapa kesempatan saya lihat, mereka sangat repot membawa sound yang besar dan berat dibandingkan dengan ogoh-ogohnya sendiri, jadi seolah-olah fokus utamanya lebih ke bagaimana menjaga agar sound system atau musiknya terlihat bagus dan tidak rusak. 🙂

Seingat dan setahu saya, kemarin dalam pawai hanya beberapa banjar yang masih menggunakan gamelan Bali dan sisanya ogoh-ogoh dari komunitas di sekitaran banjar yang menggunakan sound system sebagai musiknya dalam perarakan.

Kedua hal tersebut yang cukup mencuri perhatian saya semenjak kembali ke Pulau ini, setelah 8 tahun lebih berada di pulau yang berbeda. Saya pernah berbincang dengan teman saya orang Bali, ia pun mengakui kalau sekarang anak-anak mudanya jarang yang mau belajar gamelan, di banjarnya sendiri pun sudah jarang mengadakan latihan gamelan bersama pemuda banjar. Perubahan itu sangat terasa bagi saya yang dari kecil sedikit banyak memahami budaya Bali.

Ada beberapa faktor yang sedang menggerogoti tradisi kebudayaan ini. Entah berapa lama dapat bertahan.

NB: Brightness foto menjadi naik setelah diupload ke Blogger, saya juga kurang paham kenapa. Ada yang tahu mungkin?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *